Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label #CurhatBersama. Tampilkan semua postingan

Blog Dibaca Suami. Yes or No?


Sudah ada 345 tulisan di blog ini.

Wah angkanya syantiek ya, kayak yang punya blog.

Duarrr, aku tau kok, kamu bacanya pasti berasa ditembak senjata pemusnah masal. Yaudah, minum kopi dulu sana, elus-elus dada dan jangan lupa bilang istigrfar kalau berasa lagi hamil. Wkwkwk.

(((FOKUS TETTY FOKUS)))

Ya maafkan aku yang sedang hilang fokus, pagi ini belum sarapan soalnya, rada pusing gimana gitu. Sengaja nanti siangan aja supaya sekalian makan siang. Aku pengen kurus, eenggg gak sebadan-badan sih, tapi emang ada bagian-bagian yang harus dikecilin. Harus ada gumpalan yang luruh, apalagi kalau bukan gumpalan lemak.


Hari ini, #CurhatBersama ku bareng Handriati mau bahas tentang blog yang dibaca suami, yes or no?

Baca punya Handriati


Sebelumnya kita juga nulis tentang yang berbau suami juga, yaitu tentang kepoin dompet suami. Jangan lupa dibacaaa yaaa.

Ngomongin blog, apalagi blog ini kan tercipta setelah aku nikah, dan sebagian besar isinya juga tentang aku dan realita pernikahan dan peranakan, jadi ya bahasannya gak jauh dari rutinitas sehari-hari, yang mana bapak suami tahu persis kelakuan istrinya 24 jam.

Jadi, udah gak bisa pencitraan lewat blog lah sama suami mah.


Suami udah tahu persis, mana yang istrinya banget dan mana yang nggak. Ya walau aku mempercayai kalau yang namanya aktivitas nyata dan tulisan maya kadang emang gak semua sama. Beti lah, beda-beda tipis. Karena emang semua orang, bukan cuma blogger, pasti ingin terlihat yang baik-baiknya aja kan di dunia maya.

Dan salah satu orang yang maha mengetahui seluk beluk kepribadian istrinya tidak lain dan tidak  bukan adalah suaminya sendiri.


Kenapa sih aku pengen nulis tentang ini? Karena di tulisan blog dan pencitraan kemarin, ada komentar bahwa ternyata blognya itu gak mau dibaca sama suaminya. Isin katanya, malu lah.

Coba, sapa nih yang komentar begini? Ngaku, ngaku.

Nah, kemudian aku bertanya kepada diri sendiri, malu gak sih kalau blognya dibaca suami? Jawaban aku dalam hati sih, emmm iya malu juga sebenernya. Tapi gimana lagi deh, kita temenan di Facebook, otomatis Abbiy baca setiap postingan di blog ini.

Wkwkwk. Ni juga pasti lagi dibaca deh. 

Jadi gimana mau ditutup-tutupin, orang muncul di temlennya.

Akhirnya sampai saat ini, aku masih setengah-setengah antara iya atau tidak, blog ini dibaca sama Abbiy, soalnya itu kadung diterbitin di facebook, jadi pasti kebaca. 50% boleh, 50% nya lagi nggak boleh.

Ini aku jemrengin alesan boleh sama nggak bolehnya ya.

Kenapa boleh?

1. Buat dimintain komentar. Buat lomba blog, kadang aku minta komentar juga sih sama Abbiy. Tentang tulisan, foto, video, dll. Walau kadang jawabannya kurang memuaskan, wkwkwk.

2. Cari Helikopter View. Nyambung ke point 1.  Jadi, aku bisa membaca pikiran orang “jika” “apabila” orang lain baca tulisan di blog, terutama postingan lomba kali ya, atau yang berbau kontroversi.

3. Pengen ngasih tahu sesuatu secara gak langsung. Eeeeaaa, kalau ini namanya ngemodus kakakkkkk.

4. Pengen nunjukin karya atau kreativitas. Karena foto yang lumayan bagus, infografis, itu sangat sulit dibuat oleh Ibu rumah tangga beranak dua, jadi kadang naluri pamer ke suami itu suka ada.

5. Terlihat produktif. Masih pamer detected. Ya gak apa lah pamer ke suami mah, anggap saja pamer yang positif.


Terus kenapa 50% nya masih gak boleh?

1. MAALUUUUU. Hahahah, yah namanya sama orang yang bareng 24 jam, ya malu aja kalau posting, takut dibilang pencitraan. Wkwkwk.

2. Takut dikasih komentar negatif. Aku bisa baper Kakak, kalau dikomentarin yang negatif. Padahal sendirinya yang minta dikomentarin, tapi pas dikomentarinnya kurang memuaskan entar uring-uringan sendiri. Ya kayaknya emang begini deh sifat perempuan, pengen dikomenin tapi ujung-ujungnya bawa perasaan.

3. Takut diledekin. “Cieeee, tulisannya zxzxzxzxzxzxzx” atau “Coba dong tiap hari begitu di rumah.” Hadeeuhhhh aku paling malashhh kalau udah diledek campur bully bully cinta model begini. Eaaaa. Atau, “Malu ih, nanti nulis gitu, kalau kebaca tetangga yang temenan di medsos gimana?” Huffttt.


4. Yaudah lah 3 aja.

Okelah, setelah menimbang baik dan buruk beserta alasannya. Menurut aku, Blog dibaca suami yes or no?


Aku akan jawab, YES.


Kenavah?




KARENAAA EMANG TERLANJUR TEMENAN DI SEMUA SOSMED.


Yaudin, postingan ringan #CurhatBersama dicukupkan sekian. Kalau kamu, sebagai blogger, paling nyaman tulisannya dibaca atau nggak nih sama pasangan?

Sharing yuk!


Blog Dibaca Suami. Yes or No?


Sudah ada 345 tulisan di blog ini.

Wah angkanya syantiek ya, kayak yang punya blog.

Duarrr, aku tau kok, kamu bacanya pasti berasa ditembak senjata pemusnah masal. Yaudah, minum kopi dulu sana, elus-elus dada dan jangan lupa bilang istigrfar kalau berasa lagi hamil. Wkwkwk.

(((FOKUS TETTY FOKUS)))

Ya maafkan aku yang sedang hilang fokus, pagi ini belum sarapan soalnya, rada pusing gimana gitu. Sengaja nanti siangan aja supaya sekalian makan siang. Aku pengen kurus, eenggg gak sebadan-badan sih, tapi emang ada bagian-bagian yang harus dikecilin. Harus ada gumpalan yang luruh, apalagi kalau bukan gumpalan lemak.


Hari ini, #CurhatBersama ku bareng Handriati mau bahas tentang blog yang dibaca suami, yes or no?

Baca punya Handriati


Sebelumnya kita juga nulis tentang yang berbau suami juga, yaitu tentang kepoin dompet suami. Jangan lupa dibacaaa yaaa.

Ngomongin blog, apalagi blog ini kan tercipta setelah aku nikah, dan sebagian besar isinya juga tentang aku dan realita pernikahan dan peranakan, jadi ya bahasannya gak jauh dari rutinitas sehari-hari, yang mana bapak suami tahu persis kelakuan istrinya 24 jam.

Jadi, udah gak bisa pencitraan lewat blog lah sama suami mah.


Suami udah tahu persis, mana yang istrinya banget dan mana yang nggak. Ya walau aku mempercayai kalau yang namanya aktivitas nyata dan tulisan maya kadang emang gak semua sama. Beti lah, beda-beda tipis. Karena emang semua orang, bukan cuma blogger, pasti ingin terlihat yang baik-baiknya aja kan di dunia maya.

Dan salah satu orang yang maha mengetahui seluk beluk kepribadian istrinya tidak lain dan tidak  bukan adalah suaminya sendiri.


Kenapa sih aku pengen nulis tentang ini? Karena di tulisan blog dan pencitraan kemarin, ada komentar bahwa ternyata blognya itu gak mau dibaca sama suaminya. Isin katanya, malu lah.

Coba, sapa nih yang komentar begini? Ngaku, ngaku.

Nah, kemudian aku bertanya kepada diri sendiri, malu gak sih kalau blognya dibaca suami? Jawaban aku dalam hati sih, emmm iya malu juga sebenernya. Tapi gimana lagi deh, kita temenan di Facebook, otomatis Abbiy baca setiap postingan di blog ini.

Wkwkwk. Ni juga pasti lagi dibaca deh. 

Jadi gimana mau ditutup-tutupin, orang muncul di temlennya.

Akhirnya sampai saat ini, aku masih setengah-setengah antara iya atau tidak, blog ini dibaca sama Abbiy, soalnya itu kadung diterbitin di facebook, jadi pasti kebaca. 50% boleh, 50% nya lagi nggak boleh.

Ini aku jemrengin alesan boleh sama nggak bolehnya ya.

Kenapa boleh?

1. Buat dimintain komentar. Buat lomba blog, kadang aku minta komentar juga sih sama Abbiy. Tentang tulisan, foto, video, dll. Walau kadang jawabannya kurang memuaskan, wkwkwk.

2. Cari Helikopter View. Nyambung ke point 1.  Jadi, aku bisa membaca pikiran orang “jika” “apabila” orang lain baca tulisan di blog, terutama postingan lomba kali ya, atau yang berbau kontroversi.

3. Pengen ngasih tahu sesuatu secara gak langsung. Eeeeaaa, kalau ini namanya ngemodus kakakkkkk.

4. Pengen nunjukin karya atau kreativitas. Karena foto yang lumayan bagus, infografis, itu sangat sulit dibuat oleh Ibu rumah tangga beranak dua, jadi kadang naluri pamer ke suami itu suka ada.

5. Terlihat produktif. Masih pamer detected. Ya gak apa lah pamer ke suami mah, anggap saja pamer yang positif.


Terus kenapa 50% nya masih gak boleh?

1. MAALUUUUU. Hahahah, yah namanya sama orang yang bareng 24 jam, ya malu aja kalau posting, takut dibilang pencitraan. Wkwkwk.

2. Takut dikasih komentar negatif. Aku bisa baper Kakak, kalau dikomentarin yang negatif. Padahal sendirinya yang minta dikomentarin, tapi pas dikomentarinnya kurang memuaskan entar uring-uringan sendiri. Ya kayaknya emang begini deh sifat perempuan, pengen dikomenin tapi ujung-ujungnya bawa perasaan.

3. Takut diledekin. “Cieeee, tulisannya zxzxzxzxzxzxzx” atau “Coba dong tiap hari begitu di rumah.” Hadeeuhhhh aku paling malashhh kalau udah diledek campur bully bully cinta model begini. Eaaaa. Atau, “Malu ih, nanti nulis gitu, kalau kebaca tetangga yang temenan di medsos gimana?” Huffttt.


4. Yaudah lah 3 aja.

Okelah, setelah menimbang baik dan buruk beserta alasannya. Menurut aku, Blog dibaca suami yes or no?


Aku akan jawab, YES.


Kenavah?




KARENAAA EMANG TERLANJUR TEMENAN DI SEMUA SOSMED.


Yaudin, postingan ringan #CurhatBersama dicukupkan sekian. Kalau kamu, sebagai blogger, paling nyaman tulisannya dibaca atau nggak nih sama pasangan?

Sharing yuk!


Haruskah Kepo Isi Dompet Suami?

haruskah kepo isi dompet suami

Hai Mom. 

Makasih udah mampir lagi di blog ini. Gimana persiapan weekendnya? Mau kemana nih? Sebelumnya saya mohon maaf kalau weekend reviewnya off dulu pekan ini, dan diganti dengan #CurhatBersama saya dan Handdriati. 

Karena gak ada jadwal yang pasti, jadi yaudahlah Mamah Abimanyu dan Mamah Aldebaran pake jadwal suka-suka. Liat aja deh bannernya aja ikutan suka-suka, kagak sama. Wkwkwk.

Postingan #CurhatBersama pertama yaitu tentang Baby Blues. Sedangkan tema kali ini diusulin sama Handdriati yaitu “Ngepoin Dompet Suami” 

Apadeh dese pengen bikin tema ini, apa lagi kepo sama dompet suaminya? Atau ada apa-apanya? Coba deh kepoin langsung ke Lambe Turah blognya Handdriati ya. 


Kalau Mommy sendiri, kepo gak sih sama tiap digit rupiah yang masuk ke kantong suami? Pengen tahu banget atau cuek bebek aja yang penting aliran dana ke dompet sendiri gak ada kendala? 

Suami dapet uang, istri dapet jatah belanja. Atau semua uang suami harus dilaporkan dulu ke istri baru dibelanjain? 

Okedeh, nanti bisa dijawab dikolom komentar ya, kalau bisa sertain alasannya biar bisa saling sharing

.... 

Entah kapan sih mulai beredar quotes Rumah tangga itu seperti Workshop. Suami yang work, istri yang shop. Tapi kalau dipikir pikir emang iya juga sih. Hahaha. 

Suami memang tugasnya work, istri tugasnya ya shop. Ya belanja buat kebutuhan dasar di rumah lah. Buat beli bahan makanan, sekolah anak, arisan tupperware, cicilan baju seragam pengajian, pulsa internet, dan apa pun yang jadi kebutuhan wajib di rumah. 

Bukan shop buat hepi hepi doang ya Mom, teuteup aja belanja buat keluarga di rumah jadi prioritas utama. 


Faktanya memang sudah sangat lumrah perempuan adalah makhluk yang hobi “mengeluarkan uang” untuk membeli barang-barang baik untuk dirinya sendiri atau untuk keperluan bersama keluarga. 

Perempuan diciptakan memiliki visual yang lebih peka terhadap warna dan mudah tertarik dengan benda-benda yang “ih, warnanya lucu”. 

Gak jarang perempuan itu belanja karena impulsif, suka sama barang karena kemasan atau bentuknya, bukan karena butuh. Bukan begitu ibu ibu? 

Nah, yang jadi pertanyaan. Karena kita ini perempuan emang doyan belanja, seneng mengeluarkan uang, dan in fact uang yang dipakai itu uang pemberian suami. 

Apalagi saya yah yang memang pemasukan utama hanya dari penghasilan suami, bagaimana sih “berkomunikasi” masalah uang bersama suami? Istri atau suami yang atur? Istri tau berapa penghasilan suami? Atau yang penting di kasih aja buat belanja? 

Sumber Penghasilan 

Sudah saya singgung sedikit di atas, kalau selama ini penghasilan utama ada di suami sebagai tulang punggung keluarga. Sesekali saya memang mendapat beberapa rupiah dari hobi saya ngeblog, tapi tidak dijadikan sebagai penghasilan utama/tetap. 

Penghasilan suami otomatis menjadi kuntji untuk menjaga roda kehidupan di rumah tetap berjalan. Mulai dari kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, pakaian, aksesoris. Semuanya dari sumber yang sama, yaitu gaji dari kantor. 

Baca juga: 6 Jenis Aksesoris Ini Membuat Penampilan Mama Muda Makin Chic

Terus, gaji dari kantor itu dibagi-bagi sesuai posnya. Yalah kita semua tahu, gaji itu bagai numpang lewat doang. Tiap awal bulan udah ada pembagiannya masing masing, dan kita hanya kebagian inget inget kalender. 

“Gajian bulan depan berapa lama lagi ya?” Wkwkwk. 

Suami atau Istri yang Ngatur? 

Kalau saya sendiri lebih nyaman diatur sama suami. Jadi ya sedikasihnya aja gitu deh pasrah, hahaha. 

Ya soalnya kan suami yang pegang rekening dan atm. Saya mah tinggal nodong aja jadinya. Saya sendiri menikmati ritual nodong ke suami setiap minggu. Dan nampaknya suami juga menikmati ritual ditodong sama istrinya ini. 

Jadi yaudah sampe saat ini kami masih fine fine aja soal pengaturan keuangan. Dan memang suami istri itu kan saling melengkapi. Ketika istri memang gak jeli atur keuangan, maka suami boleh atur kendali. 

Jangan terjebak kalau suami itu bekerja cari uang dan setelah dapat uang seluruhnya dikasih ke istri. Ya kalau istrinya apik ngatur uang, kalau nggak? Bisa semaput sebelum tanggal gajian. 

Kalau Mommy sendiri, siapa nih yang paling pinter atur keuangan keluarga? 

Belanja Hobi 

Domain blog, transport event blogging, Smartphone buat ngeblog, termasuk biaya penitipan anak ketika saya ngeblog semuanya difasilitasi suami. Iya, doi yang bayarin. Katanya supaya istrinya berkembang meski di dalam rumah. 

“Thanks so much Biyyy” 

Baca juga: Bisakah Tetap Produktif di Rumah?

Alhamdulillah, hobi ngeblog ini diback up oleh suami juga. Trus bagaimana dengan hobi suami sendiri? Ya sama. Ditunjang sama keuangan keluarga juga. 

Misalkan hobi Abbiy ngumpulin benda outdoor kayak pisau, jaket buat naik gunung, ransel, panci kecil buat masak nasi, dan perintilan lainnya yang biasa dipakai buat kegiatan outdoor boleh dibeli asalkan tidak berlebihan. 

Jadi, kita saling “merelakan” belanja hobi kita masing-masing. Dan menurut saya sih mending terbuka begini, dari pada hobi suami gak didukung istri atau sebaliknya, jatohnya nanti sembunyi-sembunyi dan memicu konflik. 

Baca juga: Family Backpacker, Liburan Keluarga Impian!

Sekedar Tahu 

Karena suami yang mengendalikan keuangan, saya pribadi sekarang ya cukup tahu aja nominal penghasilan, udah tahu tok, dan gak pengen kepo lebih dalam. Karena dari awal ya udah terbuka tentang pemasukan dan pengeluaran. 

Aku mah yang penting pas nodong ada aja lah. Wkwkwk. 

Sekilas Cerita 

Jadi dulu tuh ada temen yang cerita begini, agak horor juga sih waktu denger. Ada sepasang suami istri yang istrinya cuek masalah keuangan, gak kepo sama nominal yang ada di rekening suaminya. Alhasil, yang kepo adalah PEREMPUAN LAIN. 

Dan PEREMPUAN LAIN itu lah yang ngejar-ngejar suaminya karena tahu jumlah saldo rekening dan berusaha menjadikan dirinya wanita selingkuhan. Duh Gusti, serem amat ya. Ada perempuan model kitu. Enyahlah kalian dari muka bumi ini.

.... 

Kesimpulannyaaa. 

Haa udah nyampe bab simpulan nih. Saya sendiri gak terlalu kepo masalah “dompet” suami, tapi yang penting segala pemasukan dan pengeluaran dibicarakan diawal. Terkait masalah pengeluaran tetap sampai ke belanja hobi. 

Nah, coba kalau Mommy yang lain gimana nih pengalamannya selama ini? Kepo atau nggak sih sama dompet suaminya masing-masing? 

Inget yaaa, SUAMI MASING-MASING. 


*Brb Menghindar Takut Dilempar jemuran*

Haruskah Kepo Isi Dompet Suami?

haruskah kepo isi dompet suami

Hai Mom. 

Makasih udah mampir lagi di blog ini. Gimana persiapan weekendnya? Mau kemana nih? Sebelumnya saya mohon maaf kalau weekend reviewnya off dulu pekan ini, dan diganti dengan #CurhatBersama saya dan Handdriati. 

Karena gak ada jadwal yang pasti, jadi yaudahlah Mamah Abimanyu dan Mamah Aldebaran pake jadwal suka-suka. Liat aja deh bannernya aja ikutan suka-suka, kagak sama. Wkwkwk.

Postingan #CurhatBersama pertama yaitu tentang Baby Blues. Sedangkan tema kali ini diusulin sama Handdriati yaitu “Ngepoin Dompet Suami” 

Apadeh dese pengen bikin tema ini, apa lagi kepo sama dompet suaminya? Atau ada apa-apanya? Coba deh kepoin langsung ke Lambe Turah blognya Handdriati ya. 


Kalau Mommy sendiri, kepo gak sih sama tiap digit rupiah yang masuk ke kantong suami? Pengen tahu banget atau cuek bebek aja yang penting aliran dana ke dompet sendiri gak ada kendala? 

Suami dapet uang, istri dapet jatah belanja. Atau semua uang suami harus dilaporkan dulu ke istri baru dibelanjain? 

Okedeh, nanti bisa dijawab dikolom komentar ya, kalau bisa sertain alasannya biar bisa saling sharing

.... 

Entah kapan sih mulai beredar quotes Rumah tangga itu seperti Workshop. Suami yang work, istri yang shop. Tapi kalau dipikir pikir emang iya juga sih. Hahaha. 

Suami memang tugasnya work, istri tugasnya ya shop. Ya belanja buat kebutuhan dasar di rumah lah. Buat beli bahan makanan, sekolah anak, arisan tupperware, cicilan baju seragam pengajian, pulsa internet, dan apa pun yang jadi kebutuhan wajib di rumah. 

Bukan shop buat hepi hepi doang ya Mom, teuteup aja belanja buat keluarga di rumah jadi prioritas utama. 


Faktanya memang sudah sangat lumrah perempuan adalah makhluk yang hobi “mengeluarkan uang” untuk membeli barang-barang baik untuk dirinya sendiri atau untuk keperluan bersama keluarga. 

Perempuan diciptakan memiliki visual yang lebih peka terhadap warna dan mudah tertarik dengan benda-benda yang “ih, warnanya lucu”. 

Gak jarang perempuan itu belanja karena impulsif, suka sama barang karena kemasan atau bentuknya, bukan karena butuh. Bukan begitu ibu ibu? 

Nah, yang jadi pertanyaan. Karena kita ini perempuan emang doyan belanja, seneng mengeluarkan uang, dan in fact uang yang dipakai itu uang pemberian suami. 

Apalagi saya yah yang memang pemasukan utama hanya dari penghasilan suami, bagaimana sih “berkomunikasi” masalah uang bersama suami? Istri atau suami yang atur? Istri tau berapa penghasilan suami? Atau yang penting di kasih aja buat belanja? 

Sumber Penghasilan 

Sudah saya singgung sedikit di atas, kalau selama ini penghasilan utama ada di suami sebagai tulang punggung keluarga. Sesekali saya memang mendapat beberapa rupiah dari hobi saya ngeblog, tapi tidak dijadikan sebagai penghasilan utama/tetap. 

Penghasilan suami otomatis menjadi kuntji untuk menjaga roda kehidupan di rumah tetap berjalan. Mulai dari kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, pakaian, aksesoris. Semuanya dari sumber yang sama, yaitu gaji dari kantor. 

Baca juga: 6 Jenis Aksesoris Ini Membuat Penampilan Mama Muda Makin Chic

Terus, gaji dari kantor itu dibagi-bagi sesuai posnya. Yalah kita semua tahu, gaji itu bagai numpang lewat doang. Tiap awal bulan udah ada pembagiannya masing masing, dan kita hanya kebagian inget inget kalender. 

“Gajian bulan depan berapa lama lagi ya?” Wkwkwk. 

Suami atau Istri yang Ngatur? 

Kalau saya sendiri lebih nyaman diatur sama suami. Jadi ya sedikasihnya aja gitu deh pasrah, hahaha. 

Ya soalnya kan suami yang pegang rekening dan atm. Saya mah tinggal nodong aja jadinya. Saya sendiri menikmati ritual nodong ke suami setiap minggu. Dan nampaknya suami juga menikmati ritual ditodong sama istrinya ini. 

Jadi yaudah sampe saat ini kami masih fine fine aja soal pengaturan keuangan. Dan memang suami istri itu kan saling melengkapi. Ketika istri memang gak jeli atur keuangan, maka suami boleh atur kendali. 

Jangan terjebak kalau suami itu bekerja cari uang dan setelah dapat uang seluruhnya dikasih ke istri. Ya kalau istrinya apik ngatur uang, kalau nggak? Bisa semaput sebelum tanggal gajian. 

Kalau Mommy sendiri, siapa nih yang paling pinter atur keuangan keluarga? 

Belanja Hobi 

Domain blog, transport event blogging, Smartphone buat ngeblog, termasuk biaya penitipan anak ketika saya ngeblog semuanya difasilitasi suami. Iya, doi yang bayarin. Katanya supaya istrinya berkembang meski di dalam rumah. 

“Thanks so much Biyyy” 

Baca juga: Bisakah Tetap Produktif di Rumah?

Alhamdulillah, hobi ngeblog ini diback up oleh suami juga. Trus bagaimana dengan hobi suami sendiri? Ya sama. Ditunjang sama keuangan keluarga juga. 

Misalkan hobi Abbiy ngumpulin benda outdoor kayak pisau, jaket buat naik gunung, ransel, panci kecil buat masak nasi, dan perintilan lainnya yang biasa dipakai buat kegiatan outdoor boleh dibeli asalkan tidak berlebihan. 

Jadi, kita saling “merelakan” belanja hobi kita masing-masing. Dan menurut saya sih mending terbuka begini, dari pada hobi suami gak didukung istri atau sebaliknya, jatohnya nanti sembunyi-sembunyi dan memicu konflik. 

Baca juga: Family Backpacker, Liburan Keluarga Impian!

Sekedar Tahu 

Karena suami yang mengendalikan keuangan, saya pribadi sekarang ya cukup tahu aja nominal penghasilan, udah tahu tok, dan gak pengen kepo lebih dalam. Karena dari awal ya udah terbuka tentang pemasukan dan pengeluaran. 

Aku mah yang penting pas nodong ada aja lah. Wkwkwk. 

Sekilas Cerita 

Jadi dulu tuh ada temen yang cerita begini, agak horor juga sih waktu denger. Ada sepasang suami istri yang istrinya cuek masalah keuangan, gak kepo sama nominal yang ada di rekening suaminya. Alhasil, yang kepo adalah PEREMPUAN LAIN. 

Dan PEREMPUAN LAIN itu lah yang ngejar-ngejar suaminya karena tahu jumlah saldo rekening dan berusaha menjadikan dirinya wanita selingkuhan. Duh Gusti, serem amat ya. Ada perempuan model kitu. Enyahlah kalian dari muka bumi ini.

.... 

Kesimpulannyaaa. 

Haa udah nyampe bab simpulan nih. Saya sendiri gak terlalu kepo masalah “dompet” suami, tapi yang penting segala pemasukan dan pengeluaran dibicarakan diawal. Terkait masalah pengeluaran tetap sampai ke belanja hobi. 

Nah, coba kalau Mommy yang lain gimana nih pengalamannya selama ini? Kepo atau nggak sih sama dompet suaminya masing-masing? 

Inget yaaa, SUAMI MASING-MASING. 


*Brb Menghindar Takut Dilempar jemuran*