Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Homeschooling, Sekedar Tren atau Kebutuhan Pendidikan Anak?

 




Homeschooling atau sekolah di rumah tanpa mengikuti sekolah formal pada umumnya di sekolah menjadi salah satu pilihan pendidikan yang diberikan orang tua kepada anaknya. Namun pertanyaannya, apakah homeschooling ini hanyalah sebuah ‘tren’ belaka? Atau benar-benar menjadi kebutuhan anak?

 

10 tahun yang lalu, homeschooling menjadi salah satu cara belajar yang menjadi buah bibir karena masih jarang sekali orang tua yang memilih homeschooling sebagai salah satu sarana belajar bagi anak-anak mereka.

 

Anak homeschooling dinilai tidak sama dengan anak yang sekolah formal pada umumnya, bahkan bisa jadi anak homeschooling dinilai ‘berbeda’ karena bersekolah dari rumahnya sendiri, tidak memiliki guru atau pun teman-teman sebaya seperti sekolah formal lainnya di Indonesia.

 

10 tahun berselang, homeschooling kini menjadi suatu hal yang lumrah dan menjadi alternatif pendidikan yang bisa memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Apalagi dengan terjadinya kasus Pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, percepatan pendidikan era digital dan pembelajaran mandiri menjadi titik tolak perkembangan pendidikan masa depan, salah satunya homeschooling.

 

Bahkan pasca pandemi Covid-19 lembaga pendidikan yang memang menjadi penyedia layanan homeschooling makin ‘menjamur’ dan cukup diminati oleh para orang tua.

 



Negara sendiri menjamin sistem homeschooling ini berdasarkan Undang-Undang no. 20 tahun 2003, yakni ada tiga jalur pendidikan yang diakui, yaitu jalur pendidikan formal (sekolah), jalur pendidikan nonformal (kursus, pendidikan kesetaraan), dan jalur pendidikan informal (pendidikan oleh keluarga dan lingkungan). Homeschooling termasuk ke dalam kategori yang ketiga, yaitu jalur pendidikan informal.

 




Lebih lanjut, pasal 27 undang undang No. 20 tahun 2003 menjelaskan tentang pendidikan informal sebagai berikut :

 

1. Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.


2. Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.


3. Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.


Legalitas homeschooling juga dibahas dalam Permendikbud No. 129 tahun 2014, yaitu adanya pengakuan bahwa ijazah murid homeschooling setara dengan sekolah formal, dan adanya jaminan dari pemerintah untuk memudahkan siswa homeschooling yang ingin pindah ke jalur pendidikan formal atau nonformal. 


Anak homeschooling juga bisa mengikuti Ujian Nasional yang tertuang dalam peraturan menteri (Permen) oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, yaitu permendikbud RI No. 129 Tahun 2014  pasal 12, yang menyatakan bahwa siswa homeschooling dapat mengikuti UN/UNPK pada satuan pendidikan formal atau nonformal yang disetujui atau ditunjuk oleh Dinas Pendidikan kabupaten/kota setempat.

 

Webinar Mengenai Homeschooling

 

Walau sedang didalam perjalanan, saya senang bisa ikut webinar
mengenai homeschooling


Sabtu, 16 Desember 2023 kemarin, saya mengikuti salah satu webinar mengenai pendidikan homeschooling bersama salah satu narasumber yang memang memiliki anak yang melakukan homeschooling sampai saat ini, yakni Mama Cilya Marthalena (@cilyawonderland) seorang ibu dengan anak yang memilih homeschooling bagi anak-anaknya, pebisnis, dan juga seorang Blogger.


Webinar ini digagas oleh salah satu bimbingan belajar online interaktif Sinotif, yang beberapa waktu lalu saya review di blog ini. Sinotif merupakan salah satu bimbingan belajar online interaktif, salah satunya Bimbel Matematika. Aldebaran sendiri pernah mengikuti kelasnya dan lumayan cocok dengan proses pembelajarannya.

 

Kembali ke homeschooling, pertanyaan besar saya selama ini adalah apakah metode homeschooling ini benar-benar efektif dilakukan untuk anak? Mungkin pertanyaan ini ada di benak saya karena saya sama sekali belum pernah  merasakan atau berinteraksi dengan sistem pembelajaran homeschooling atau anak homeschooling secara langsung.


Baca juga: 5 Skill yang Harus Anak Kuasai Agar Tak Jadi Generasi Strawberry

 

Karena rasa penasaran saya inilah pas sekali rasanya saya mendengarkan pengalaman dari Mama Cilya Marthalena tentang perjalanan homeschooling anak-anaknya.

 

Menurut Mama Cilya, stigma kurang baik tentang homeschooling masih melekat di masyarakat kita. Anak homeschooling dinilai sebagai anak yang memiliki kekurangan atau perbedaan sehingga tidak bisa bersekolah di sekolah formal seperti anak lainnya. Homeschooling juga sering dikaitkan dengan keluarga yang anti sosial, memiliki pemikiran yang berbeda dibandingkan orang tua lainnya mengenai konsep pendidikan dan pembelajaran.

 

Padahal jika kita berpikiran terbuka, konsep homeschooling ini justru menjadi solusi dari berbagai kebutuhan pendidikan anak di Indonesia. Karena begitu beragam dan bervariasinya kondisi anak dan juga keluarga, maka homeschooling ini menjadi salah satu alternatif metode Pendidikan anak yang bisa mengakomodir berbagai kebutuhan Pendidikan seorang anak.


Selain untuk mengakomodir kebutuhan pendidikan anak, homeschooling juga mampu membantu keluarga yang memiliki banyak keterbatasan waktu untuk menyekolahkan anaknya di sekolah formal, misalkan keluarga dengan orang tua yang berprofesi sebagai pebisnis, atau yang bekerja secara berpindah-pindah tempat, homeschooling tentunya bisa menjadi solusi yang tepat agar anak tetap bisa mendapatkan pendidikan yang tepat dan sesuai dengan segala kondisi yang ada.

 

Baca juga: Anak Kinestetik Baiknya diarahkan Jadi Apa, Ya?


Komunikasi dengan Anak adalah Kunci Kesuksesan Homeschooling

 



Walaupun homeschooling sekarang banyak diadopsi oleh berbagai keluarga yang memiliki ‘kebutuhan khusus’ namun tetap saja kunci utama keberhasilan homeschooling adalah komunikasi antara anak sebagai subjek utama dan orang tua sebagai peran pendukung.

 

Menurut Mama Cilya, ada baiknya orang tua berkomunikasi secara intens kepada anak sejak awal ketika ingin memilih homeschooling sebagai alternatif pendidikan bagi anak-anaknya. Orang tua harus berkomunikasi secara terbuka, mendeskripsikan secara jelas bagaimana kelebihan dan kekurangan homeschooling serta bagaimana anak-anak dan orang tua akan menjalaninya nanti.

 

Pendapat anak juga merupakan suatu hal penting dan perlu dipertimbangkan oleh orang tua ketika mengambil langkah untuk memilih homeschooling. Intinya komunikasi, keterbukaan, dan diskusi intens antara orang tua dan anak untuk bersama memilih jalan Homeschooling menjadi kunci utama agar homeschooling bisa berjalan dengan baik kedepannya.

 

Peran Orang Tua Sangat Penting

 


Jika di sekolah formal kita bisa ‘menitipkan’ anak kepada pihak sekolah (Guru) maka Ketika memutuskan untuk memilih homeschooling orang tua lah yang akan berperan sentral menjadi kepala sekolah, guru, tutor, mentor, fasilitator, pembimbing, pengawas, dan peran lainnya.


Orang tua bertugas mengatur/memenej semua kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan oleh anak-anak di rumah, mengatur siapa yang akan menjadi guru/mentor, apakah bisa oleh orang tuanya atau harus menghadirkan guru lainnya (baik secara offline maupun online).

 

Kekurangan dan Kelebihan Homeschooling

 

Menurut Mama Cilya, walaupun di era sekarang ini homeschooling cukup mudah dilakukan karena fasilitasnya pun sudah mulai banyak ditemukan, namun tetap ya, homeschooling ini memiliki tantangan tersendiri.

 

Beberapa kekurangan homeschooling diantaranya yang pertama, mungkin perlunya usaha lebih dari orang tua dibandingkan dengan menyekolahkan anak di sekolah formal. Orang tua harus aktif mencari informasi seputar kurikulum, metode pembelajaran, Lembaga Pendidikan yang bisa menaungi homeschooling baik secara teknis pembelajaran maupun administratif, dan lain sebagainya.

 

Jika anak ingin melakukan homeschooling, orang tua pun harus siap secara mental, fisik, materi, karena orang tua akan menjadi peran sentral atas keberlangsungan proses pendidikan melalui metode homeschooling.

 

Kedua, anak memiliki keterbatasan interaksi dengan teman sebayanya. Terbatas bukan berarti tidak sama sekali ya, karena anak homeschooling bisa melakukan tatap maya Bersama mentor/guru dan teman-teman sebayanya secara virtual.

 

Selain itu, anak homeschooling juga bisa melakukan gathering atau pertemuan bersama teman-temannya dalam sebuah event. Mama Cilya mengatakan bahwa anaknya sering melakukan gathering bersama teman-temannya, terakhir kali bahkan nonton bareng ke bioskop.




Kelebihan homeschooling pun diutarakan oleh Mama Cilya, diantaranya yang pertama adalah, anak menjadi memiliki waktu yang lebih fleksibel dalam belajar, apalagi anak yang memiliki bakat atau hobi seperti bermain musik, acting, olah raga (atlet), anak-anak ini kesempatan lebih banyak untuk mengasah minat dan bakatnya namun tidak tertinggal dalam pembelajaran umum yang biasa ditempuh dalam pendidikan formal.

 

Kedua, orang tua yang memiliki pekerjaan atau profesi yang berbeda dengan orang kebanyakan juga bisa menyesuaikan dengan ritme belajar anak. 

 

Mama Cilya sendiri adalah seorang pebisnis, mentor bidang entrepreuneurship, dan penyelenggara travel umroh dan haji. Bayangkan dengan pekerjaan yang memang menuntut fleksibilitas tinggi ini tentunya homeschooling menjadi solusi dalam mendidik anak, sehingga anak dan orang tua sama-sama bisa merancang aktivitas pembelajaran yang berkualitas dengan menyesuaikan ritme atau jadwal masing-masing.

 

Memilih Bimbel Matematika Online Interaktif untuk Anak Homeschooling

 

Walaupun bukan anak homeschooling, Aldebaran pernah mencoba belajar
bersama Bimbingan Belajar Online Interaktif Sinotif


Seperti yang saya katakan sebelumnya, homeschooling pada saat ini mudah diakses karena banyak sekali Lembaga Pendidikan yang ‘ikut membantu’ jalannya homeschooling bagi anak-anak. Salah satunya lembaga bimbingan belajar online interaktif Sinotif yang juga memiliki kelas online untuk anak homeschooling yang ingin belajar ilmu eksakta seperti matematika, kimia, dan fisika.


 Baca juga: Pengalaman Mengikuti Bimbel Online Interaktif Sinotif


Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi para orang tua yang ingin memilih Langkah Homeschooling seperti Mama Cilya Marthalena, karena memang homeschooling ini ternyata menjadi sebuah solusi sekaligus kebutuhan bagi keluarga dengan situasi dan kondisi tertentu.

 

Sinotif sendiri adalah salah satu Lembaga bimbingan belajar khusus eksakta seperti bimbel matematika, kimia, dan fisika. Bimbingan belajar online Interaktif di Sinotif, dibimbing langsung oleh tenaga pengajar berkualitas dan bersifat personalized (menyesuaikan karakter siswa) yang dibimbing.

 


Sinotif akan mengklasifikasikan siswa sesuai dengan minat dan bakatnya dalam ilmu eksakta (Matematika, Fisika, Kimia) dan berusaha memfasilitasi siswa yang memiliki hambatan belajar dalam ilmu eksakta tersebut.

 


Kelas yang bisa dipilih pun beragam, ada yang bersifat kelompok dan ada juga yang individual. Semua tergantung kepada kebutuhan anak dan orang  tua terhadap pembelajaran eksakta. 


Jika anak homeschooling memiliki bakat seni dan musik, mungkin tidak terlalu tinggi kebutuhan tentang ilmu eksaktanya ya, namun sebaliknya jika anak memang sangat suka Matematika, macam Jerome Poline dan suka ikut olimpiade, sangat bisa untuk masuk kelas yang individu agar proses bimbingan belajar bisa lebih optimal.


Klik sinotif.com atau kunjungi instagram @sinotif.official untuk informasi lebih lanjut seputar bimbel Matematika atau pun bimbel pelajaran eksakta lainnya, ya.


Pembelajaran di Era Digital

 



Pandemi Covid-19 ternyata mempercepat hadirnya pembelajaran jarak jauh/pembelajaran mandiri di Indonesia, hal ini tentunya bukan hal asing bagi anak homeschooling, ya. pembelajaran mandiri tentunya menjadi metode yang dilakukan sehari-hari karena bisa lebih fleksibel sesuai dengan konsep pendidikan homeschooling.

 

Sinotif juga memberikan akses sumber belajar mandiri melalui E-Learning seratusinstitute.com, saya rasa ini sangat cocok jika anak homeschooling ingin belajar lebih intens mengenai ilmu eksakta (Matematika, Fisika, Kimia) yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja.

 

Homeschooling Apakah Sekedar Tren?

 

Mendengar paparan dari Mama Cilya Marthalena, homeschooling memang masih mendaptkan stigma negative dari masyarakat, bahkan Ketika memutuskan untuk melakukan homeschooling, bisa jadi hanya sedang mengikuti ‘tren’ yang ada di masyarakat.

 

Padahal menurut saya (hasil dari paparan Mama Cilya) bagi sebagian keluarga, homeschooling ini menjadi salah satu pilihan yang tepat dan menjadi solusi bagi pendidikan anak-anak. Karena setiap anak itu unik, dan setiap keluarga pun demikian.

 

Jadi, menurut opini saya, homeschooling bukan hanya sekedar tren namun sebuah kebutuhan masyarakat Indonesia pada masa sekarang ini. Namun memang keputusan homeschooling ini adalah keputusan yang sangat besar bagi sebuah keluarga, sehingga ketika memutuskan mengambil jalan homeschooling harus berdasarkan kebutuhan dan komitmen yang kuat.

 

 

Bagaimana pendapat Mama tentang homeschooling? Yuk, sharing pendapat Mama di kolom komentar :D

Cara Mudah Menghindari Kepala Bayi Peyang yang Wajib New Mom Ketahui

 



“Bu, kok  kepala bayi ibu peyang sebelah?”

 

Begitulah tanggapan julid tetangga dan beberapa kerabat ketika melihat adik laki-laki saya waktu kecil. Rambutnya yang selalu dibuat botak atau cepak ala tentara membuat bentuk kepalanya yang peyang atau tidak bulat merata nampak jelas di mata setiap orang. Dan tentunya membuat orang ‘gatal’ ingin berkomentar.

 

Saat itu usia saya masih sekitar 12 tahun, tentunya belum paham kenapa bentuk kepala adik laki-laki saya miring di satu sisi atau dikenal dengan istilah ‘peyang’. Dan sayangnya bentuk kepala yang tidak bulat merata tersebut terbawa hingga dewasa dan sulit untuk ‘diperbaiki’ kembali.

 

Ketika saya sudah dewasa, menikah, hamil dan akan melahirkan, saya teringat akan kejadian ini. Bahwa ibu saya dulu sering dikomentari oleh orang lain terkait kepala bayi (adik saya) yang peyang ke satu sisi, sehingga bentuknya tidak bulat sempurna. Seketika itu pula saya segera mencari tahu, apa penyebab dan bagaimana mengatasi kepala bayi peyang, agar hal ini tentunya tidak terjadi kepada anak saya ketika lahir.

 

Pertama tentunya untuk menghindari bullying kepada ibu pasca melahirkan, dan yang kedua tentunya saya mencari tahu apakah ada efek kesehatan yang akan timbul jika kepala bayi peyang seperti itu.

 

Penyebab Kepala Bayi Peyang

 

Ketika baru dilahirkan, tulang kepala bayi sangatlah lunak, sehingga ketika ada tekanan di sebelah sisi tertentu, maka akan terlihat sekali bentuknya menjadi miring atau dikenal dengan istilah peyang. Secara umum ada tipe jenis ‘kepala bayi peyang’ yang dikenal yakni Plagiocephaly atau peyang di sisi samping kepala bayi, dan Branchycephaly atau peyang di sisi belakang kepala bayi.




Menurut beberapa sumber yang saya baca, kepala peyang pada bayi disebabkan oleh posisi yang salah Ketika tidur, misalkan selalu tidur terlentang atau miring di satu sisi saja. Selain itu, kepala bayi peyang juga bisa disebabkan karena gangguan yang terjadi dari dalam rahim ibu.


Baca juga: Pengalaman Melahirkan Anak Kedua


Berbekal Pengalaman, Begini Cara Mudah Menghindari Kepala Bayi Peyang

 

1. Menghindari Tidur pada Posisi yang Sama




Banyak new mom yang merasa kelelahan pasca melahirkan sehingga terkadang lupa untuk memperhatikan posisi tidur bayi. Ada yang membiarkan bayinya terus-terusan tidur dalam posisi tidur terlentang atau pun miring ke satu sisi saja. Karena tulang tengkorak bayi yang masih lunak tadi, posisi seperti ini akan membuat kepala bayi menjadi flat atau datar di bagian tertentu saja (bagian belakang atau sisi kanan/kiri).

 

Walau pun pasca melahirkan itu sangat melelahkan, diusahakan new mom tetap berusaha memperhatikan posisi tidur bayi, jangan tidur dalam posisi yang lama dalam jangka waktu yang lama,  karena tentu saja ini sangat berpengaruh kepada bentuk kepala bayi, dan menghindari kepala bayi peyang yang tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi ‘kehidupan’ bayi di masa depan.

 

2. Menggunakan Bantal Khusus




Saat kehamilan saya memasuki usia 7 bulan, saya mulai membeli berbagai perlengakapan bayi termasuk bantal bayi khusus anti peyang. Bentuk bantalnya sangat unik karena memiliki lubang di tengah bantal.

 

Awalnya saya merasa bantal ini sangat unik atau lebih tepatnya aneh, karena biasanya kita senang jika tidur pada bantal yang empuk, bukan bantal yang berlubang. Namun nyatanya, bantal bayi anti peyang ini memang didesain agar kepala bayi bulat sempurna, tidak miring ke satu sisi kanan atau kiri atau pun rata/flat di bagian belakang kepala.

 

Ketika anak pertama saya berhasil memiliki bentuk kepala bayi yang bulat sempurna, maka saya memutuskan untuk menjadikan bantal kepala bayi anti peyang sebagai barang wajib yang harus dibeli ketika saya hamil dan akan memiliki bayi Kembali.


Baca juga: Mempersiapkan Mental Menghadapi Persalinan

 

3. Mengubah Posisi saat Menyusui




Sama halnya dengan posisi tidur bayi, new mom yang Lelah pasca melahirkan akan merasa ‘malas’ untuk mengubah posisi menyusui bayi jika dirasa posisi tersebut membuat nyaman bagi ibu dan juga bayi. Padahal jika dibiarkan, hal tersebut akan membuat kepala bayi menjadi peyang atau tidak memiliki bentuk yang bulat sempurna.

 

Sebelum bayi berusia 3 bulan atau saya kira tengkorak kepalanya sudah mengeras, saya selalu mengubah posisi menyusi bayi, terutama posisi menyusui sambil berbaring di tempat tidur. Karena baisanya saking nyamannya, kita lupa untuk mengubah posisi tersebut dan ikut tertidur bersama bayi, hehehe.

 

Dampak Kepala Bayi Peyang bagi Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi


Dilansir dari berbagai sumber, bentuk kepala bayi peyang atau miring di satu sisi atau di rata/flat di bagian belakang kepala, tidak memiliki dampak pada pertumbuhan dan perkembangan bayi, hanya saja dampak yang ditimbulkan lebih ke dampak fisik.

 

Seperti yang ibu saya alami, jadi banyak komentar miring terhadap bentuk kepala adik saya yang dirasa terlihat asimetris. Jadi menurut saya pribadi sih, dari pada ‘memancing’ komentar netizen nantinya, lebih baik kita sebagai new mom berusaha untuk menjaga bentuk kepala bayi agar tetap bulat sempurna.

 

Selain itu, di masa depan bisa saja anak-anak kita menjadi korban bullying karena memiliki bentuk kepala yang berbeda. Untuk itu, tidak ada salahnya agar kita berusaha untuk menjaga bentuk kepala bayi kita agar tidak menjadi sasaran bullying fisik oleh para oknum netizen yang tak memiliki empati dan tidak memiliki hati nurani.


Baca juga: Agar Anak Tidak Tumbuh Menjadi Generasi Strawberry

 


Informasi seputar kesehatan dan berita yang up to date bisa Mama dapatkan juga di Beranda.co.id, ya, yakni portal berita online yang selalu menyajikan berita yang terbaru dan memberikan insight berbeda kepada pembaca untuk menambah khasanah pengetahuan dan juga informasi yang diperlukan seputar gaya hidup, Kesehatan, ekonomi, bisnis, inspirasi, travel, dan lain sebagainya.

 

Punya pengalaman seputar kepala bayi peyang juga, Ma? Atau punya tips lainnya? Yuk, sharing di kolom komentar! Siapa tahu bermanfaat untuk Mama lainnya, lho!

 

5 Skill yang Harus dimiliki Anak agar Tak Jadi Generasi Strawberry

 


 

“Dasar generasi strawberry!” Keluh seorang guru yang mengajar di bangku sekolah dasar.


Setelah membaca resume buku Strawberry Generation dan membaca motivasi Helmy Yahya yang syarat akan perjuangan hidupnya yang berliku, saya menyadari satu hal, yakni hari ini kita sedang menciptakan Generasi Strawberry.


Bukan hanya saya sebagai orang tua, guru pun merasakan hal yang sama. Semenjak mulai mengajar anak-anak di kelas rendah, guru menemukan banyak ‘keganjilan’ yang terjadi. Seperti anak yang cenderung kreatif namun mudah menyerah, anak yang tidak mampu berkomunikasi untuk menyelesaikan masalahnya, ditambah orang tua murid yang selalu ‘berpesan’ ini dan itu kepada sang guru setiap harinya.

 

Fix! Ini sih, Namanya generasi strawberry, yakni generasi yang terlihat cantik dan indah diluar namun ternyata mudah rapuh di dalam.

 

Tidak ada definisi pasti tentang Generasi Strawberry ini, namun beberapa kali Prof. Rhenald Kasali berkomentar tentang Generasi Strawberry yang memiliki ciri-ciri kreatif, kritis, penuh rasa ingin tahu, namun mudah menyerah, lemah akan tanggung jawab, tidak berorientasi pada solusi ketika menghadapi masalah  (menyalahkan faktor lain) dan cenderung tidak mau mengandalkan dirinya sendiri.

 

Sama seperti opini-opini yang disampaikan oleh Prof. Rhenald Kasali mengenai Generasi Strawberry, setiap saya membaca perjalanan hidup para public figure, seperti motivasi Helmy Yahya, selalu ada benang merah antara perubahan karakter generasi dari zaman ke zaman.

 

Generasi Strawberry  tentu tidak terbentuk dengan sendirinya, pasti ada yang membentuk sikap mental seperti ini. Siapa yang membentuk anak-anak yang diduga menjadi Generasi Strawberry? Tidak lain dan tidak bukan, tentu kita, para ORANG TUA.

 

Salah satu hal yang paling saya rasakan ketika menjadi bagian dari elemen pendidikan anak di sekolah adalah banyaknya orang tua yang selalu men-takeover atau mengambil alih semua urusan anak-anaknya di sekolah.

 

Ketika anak menghadapi masalah, orang tua segera maju untuk pasang badan. Ketika anak diberi tugas, orang tua kerepotan untuk mengerjakan tugas anaknya di rumah, sementara sang anak berleha-leha tak berfikir bagaimana menyelesaikan tugas tersebut.

 

Ingat masalah orang tua yang melaporkan guru ketika sang guru menegur anak yang tidak shalat? Ini adalah salah satu bukti bahwa anak-anak saat ini mengalami pelemahan mental karena orang tua yang selalu siap menjadi solusi berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh anak-anaknya.


Baca juga: Anak Membuat Kita Tidak Bahagia?

 

Mencegah Anak Menjadi Generasi Strawberry

 


Salah satu tanggung jawab penting yang dimiliki oleh orang tua adalah membentuk karakter anak sesuai dengan syariat Islam, berakhlaq seperti Rosulullah SAW, dan tentunya memiliki mental kuat yang mampu diandalkan di zaman sekarang ini.

 

Karena kita sebagai orang tua, tak pernah bisa menemani anak-anak sepanjang hidup mereka. Kelak mereka akan dewasa dan kita pun akan menua, maka mempersiapkan anak dengan baik dari segi karakter menjadi hal utama.

 

Sedihnya, kebanyakan orang tua saat ini terlalu berfokus menyiapkan anak dari segi materi (dana pendidikan, perawatan, pengasuhan anak), tapi abai terhadap persiapan karakter anak untuk menyambut kehidupan dewasa kelak. Hingga beberapa waktu lalu muncul kasus seorang anak yang kuliah di Fakultas Kedokteran, memutuskan untuk bunuh diri di dalam mobil. Hal ini tentunya harus menjadi tanda tanya besar di benak setiap orang tua.

 

 

5 Skill yang Harus dimiliki Anak agar Tak Jadi Generasi Strawberry

 

Melihat realita yang terjadi sekarang, saya sebagai orang tua memiliki kesimpulan bahwa ada 5 skill dasar yang harus dimiliki anak agar tak jadi Generasi Strawberry. Skill apa saja kah itu?

 

1. Skill Komunikasi




Komunikasi bukan hanya berbicara dan sekedar berucap kata-kata. Komunikasi adalah salah satu cara manusia untuk menyampaikan gagasan, ide, pendapat, perasaan, dll melalui sebuah media dan akan menghasilkan efek tertentu.


Anak-anak harus dilatih berkomunikasi sejak dini, mereka harus bisa menyampaikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan baik dan benar. Sehingga tidak ada masalah tantrum yang berkepanjangan, salah paham/mis komunikasi, dan respon yang salah terhadap sebuah komunikasi.

 

Ketika ada masalah, biarkan anak berbicara dan berkomunikasi dengan baik. Misalkan ada konflik dengan temannya di kelas, biarkan anak yang memulai komunikasi dengan temannya, mengutarakan pendapat dan perasaannya, kemudian biarkan ia mendengar dan menyimak argumentasi dari teman yang sedang berselisih paham dengannya.

 

Jangan selalu orang tua yang mengambil alih untuk mendamaikan, untuk menyelesaikan masalah, atau bahkan tidak ingin berkomunikasi kepada pihak yang bersangkutan terkait masalah yang terjadi (menghindari/lari dari masalah).

 

Komunikasi adalah salah satu hal yang penting, ketika anak gagal berkomunikasi, maka ia akan gagal mengungkapkan apa yang ia pikirkan, apa yang ia rasakan, jika ini terus berulang, maka bersiaplah akan ada bom waktu yang meledak di kemudian hari.


Baca juga: Anak Kinestetik Baiknya diarahkan untuk Jadi Apa, ya?

 

2. Skill Negosiasi




Negosiasi adalah proses diskusi untuk menyelesaikan suatu masalah agar tercapai solusi bersama. Ketika anak tidak pernah dihadapkan kepada masalah, misalkan buku ketinggalan, tempat makan ketinggalan, salah pakai seragam, berkonflik dengan teman, tidak mengerjakan tugas, maka anak tidak akan pernah tahu cara untuk bernegosiasi dengan pihak lain yang bermasalah dengannya.

 

Sebagai contoh ketika buku pelajaran anak tertinggal di rumah. Biarkan lah anak ‘menaggung resiko’ kelalainnya tersebut. Jangan buru-buru meminta orang tuanya untuk mengantarkan buku yang tertinggal ke sekolah.

 

Biarkan anak bernegosiasi dengan guru, “Apa yang bisa saya lakukan ketika buku pelajaran tertinggal di rumah?” Kemudian akan muncul beberapa pilihan, bukan? Meminjam buku teman secara bergantian, meminjam buku di perpustakaan, dan lain sebagainya.

 

Ketika anak dihadapkan pada masalah kemudian ia bisa bernegosiasi dengan orang atau keadaan yang sedang terjadi, maka ia akan belajar untuk bertanggung jawab dan memahami bahwa setiap apa yang kita lakukan akan melahirkan sebuah resiko.

 

3. Skill Manajerial




Setelah anak bisa berkomunikasi dengan baik, mampu bernegosiasi dengan orang atau keadaan ketika sedang dihadapkan dengan sebuah masalah. Anak-anak pun harus diajari skill manajerial. Bagaimana ia harus mengatur dirinya? Bagaimana ia harus mengatur kegiatannya? Sebelum nanti ketika anak dewasa, ia bukan hanya harus mengatur dirinya, melainkan mengatur orang dan keadaan di sekitarnya juga.

 

Bagaimana ia bisa memenej orang lain atau lingkungannya ketika ia sendiri tidak selesai dengan dirinya sendiri?

 

Contohnya adalah ketika menyiapkan buku, seragam, sepatu, alat minum dan makan, biarkan anak yang mengatur semuanya sendiri. Biasakan membuat jadwal untuk melakukan hal tersebut, dan tahu konsekuensi ketika hal tersebut tidak dilalukan.

 

4. Skill Mengelola Emosi




Menurut Psikolog Paul Ekman, secara umum manusia memiliki 6 emosi dasar, yaitu terkejut, takut, marah, senang, jijik, dan sedih. Banyak sekali seminar parenting yang membahas soal mengelola emosi ini, emosi itu bukan hanya marah, emosi banyak macamnya dan bagaimana cara menyalurkannya?

 

Terkadang orang tua tidak mau repot ‘menghadapi’ emosi anak, sehingga menggunakan jalan pintas untuk menutup aliran emosi tersebut. Padahal ketika anak tidak memiliki kemampuan menyalurkan emosi dengan benar sejak kecil, maka ia akan kesulitan mengelola emosinya hingga ia dewasa.

 

Padahal di dunia orang dewasa, kegaduhan akibat emosi manusia ini akan sangat riuh sekali. Apalagi ketika anak sudah berada di lingkungan tertentu, jika ia tidak bisa mengelola emosinya sendiri, ia akan sibuk menyalahakan keadaan, seperti ‘lingkungan toxic, orang toxic, dll’

 

Mungkin saja, bisa jadi, bukan lingkungan atau orang yang toxic, melainkan anak yang tidak bisa ‘membawa diri’ dengan meregulasi emosinya dengan baik. Saya selalu yakin, orang yang sudah ‘selesai’ dengan dirinya, akan mudah mengatasi emosinya sendiri dan tidak mudah terpengaruh dengan limpahan emosi dari orang lain yang tidak pada tempatnya.

 

 

5. Skill Menyelesaikan Masalah




Semua skill yang sudah saya sebutkan di atas bagai irisan yang mendukung satu sama lain. Saya yakin skill yang satu ini pun menjadi salah satu akumulasi ketika anak sudah memiliki keempat skill yang sudah saya sebutkan tadi.

 

Kebanyakan orang ketika menghadapi masalah, akan cenderung membela diri, menyalahkan diri sendiri, atau menyalahkan orang lain. Padahal ketika seseorang menghadapi masalah, hal yang seharusnya menjadi tujuan adalah penyelesaian masalah yang berorientasi pada SOLUSINYA.

 

Ketika orang tua selalu mengambil masalah anak-anaknya, kemudian menyelesaikannya tanpa berdiskusi dengan anak, saya rasa anak tidak akan pernah tahu dan bisa menghadapi bahkan mencari solusi sendiri terhadap masalahnya.

 

Di kurikulum Merdeka yang sekarang berlaku secara nasional, anak-anak dituntut kreatif, inovatif, dan mengeksplor minat dan bakatnya. Ketika hal ini dilakukan, tentunya tidak akan mulus-mulus saja, pasti ada tantangan, masalah, dll. Anak harus bisa berpikir kritis sepaket dengan kemampuan mencari solusi. Jangan hanya diminta berpikir kritis, namun ketika ada masalah, orang tua ikut men-take over masalahnya.


Baca juga: Mengatasi Hambatan Belajar pada Anak dengan Online Learning


Begitupun ketika anak berkonflik dengan temannya, sebisa mungkin biarkan lah anak yang menyelesaikan masalah mereka sendiri. Karena nanti pada akhirnya, di masa dewasa, ia akan menerima pahitnya konflik, kegagalan, masalah, kekecewaan, dan lain sebagainya.

 

Biarlah anak tahu bahwa apa yang ia inginkan dan sesuatu yang ideal itu tidak mudah digapai, harus ada usaha untuk meraihnya dengan skill komunikasi, negosiasi, manajerial, mengelola emosi, dan juga skill menyelesaikan masalah demi masalah.

 

***

Sikap tegas kita sebagai orang tua tentunya menjadi KOENTJI untuk melatih 5 skill dasar yang harus dimiliki oleh anak. Mungkin kita merasa kasihan, sayang, khawatir kepada anak-anak kita, saya rasa itu sah dan valid sebagai orang tua, namun tetap kita harus menempatkan perasaan-perasaan tersebut pada tempat dan kondisi yang sesuai,


Jangan sampai kita membentuk anak menjadi Generasi Strawberry yang justru akan membuat mereka kesulitan di masa depan kelak, ketika tangan kita tak mampu lagi mendorong mereka, ketika kita sudah tak memiliki kekuatan untuk selalu menjadi tameng bagi mereka.


Akan kah kita membiarkan anak-anak kita menjadi generasi yang lemah? Atau sebaliknya, kita akan menjadi orang tua yang mengantarkan mereka menjadi manusia kuat yang siap berkontribusi untuk kesuksesan peradaban manusia?


Anak Kinestetik Baiknya diarahkan untuk Jadi Apa, ya?

 

culinary schools games kuliner untuk anak

 

Saya pernah bercerita di blog ini kalau saya adalah seorang yang memiliki dominasi gaya belajar secara kinestetik. Ya, seorang anak yang kinestetik biasanya terlihat sebagai anak aktif dan tidak bisa diam, hehehe.


Memang benar adanya, saya anak yang aktif secara fisik sejak kecil. Saya senang naik sepeda, berlarian, main kasti, badminton, jago lompat tali, bermain bola basket, bahkan pandai memanjat pohon. Sehingga sering disebut sebagai anak Perempuan yang tomboy atau bertingkah/berpakaian seperti anak laki-laki.

 

Awalnya saya pun kaget dan tidak percaya, karena saya kira gaya belajar adalah visual, karena saya sangat menyukai gambar, foto, desain, warna, dan hal-hal yang berbau visual. Namun ternyata itu bukan merupakan gaya belajar saya, ketertarikan tentang hal visual merupakan salah satu kecerdasan (minat/bakat) saya, sedangkan gaya belajar saya adalah kinestetik.


Duh, kenapa ngga tahu dari dulu, ya?


Baca Juga: Menemukan Kembali Diri Sendiri dengan Pindai Sidik Jari


Mungkin kalau saya tahu dari kecil, saya lebih bisa mengarahkan minat dan bakat serta memaksimalkan potensi saya sebagai anak yang menyenangi berbagai aktivitas fisik. Dan mungkin saat ini saya bisa memiliki aktivitas atau bahkan profesi yang berkaitan dengan hal-hal fisik atau olah tubuh.

 

Menurut Howard Gardner, kecerdasan kinestetik adalah kemampuan melakukan gerakan gerakan yang bagus seperti berlari, menari, membuat kerajinan tangan dan lain sebagainya. 


Seseorang dengan kecerdasan ini memiliki kemampuan memahami sesuatu dengan cara terlibat secara aktif pada suatu aktivitas. Kecerdasan ini memiliki pola yang telah ditentukan, seperti menari memiliki gerakan gerakan tertentu yang harus sesuai dengan makna atau tema tarian. Selain itu kecerdasan ini juga memiliki fleksibilitas dalam proses belajarnya, misalnya tim olahraga.

 

Tuh, kan? Sesuai banget dengan apa yang saya rasakan sejak kecil.

 

culinary schools games kuliner untuk anak

Tapi tidak ada kata terlambat bukan? Hikmah dari semuanya mungkin saya akan lebih mudah memahami dan mengarahkan minat dan bakat mereka untuk menjadi pribadi yang baik dan meraih apa yang mereka impikan sesuai dengan kemampuan-kemampuan yang Allah SWT titipkan kepada mereka.


Jika kita memiliki anak yang dominan gaya belajarnya secara kinestetik, lalu profesi apa yang cocok untuknya di masa depan?

 

Karena saya pun penasaran dengan yang terjadi pada diri saya, maka beberapa waktu lalu, saya mencari berbagai informasi tentang profesi apa yang cocok dilakukan oleh anak yang memiliki modalitas belajar secara kinestetik?


Baca Juga: Pengalaman Pindai Sidik Jari Anak untuk Menemukan Minat dan Bakat


1. Menjadi Aktor, Seniman Teater, atau Penari

culinary schools games kuliner untuk anak


Bagi seorang anak kinestetik yang memiliki kepribadian sanguinis atau pun ekstrovert, menjadi seorang aktor atau aktris, bermain peran pada pertunjukan teater, atau menjadi seorang penari mungkin akan menjadi hal yang sangat menyenangkan. Karena ia akan bisa mengekspresikan minat dan bakat sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. 


Orang yang memiliki kepribadian sanguinis atau ekstrovert juga akan mendapatkan energi ketika menjadi pusat perhatian atau pun berinteraksi dengan orang banyak.

 

2. Menjadi Atlet


culinary schools games kuliner untuk anak


Ketika saya berada di Sekolah Dasar dulu, saya sangat suka mata pelajaran olah raga, saya senang bermain kasti, badminton, dan lari. Hahaha saya senang sekali ketika guru olah raga meminta saya ikut lomba lari.


Ketika SMP pun saya ikut beberapa ekskul seperti bola basket dan paskibra, saya senang bermain bola basket karena memang saya suka bergerak dan mengatur strategi ketika bermain bersama teman-teman.


Sempat terbersit, “Apakah saya bisa menjadi atlet?” namun itu hanya lintasan pikiran belaka. Di era 90’an dulu, ketika saya SD, akses informasi tidak seluas sekarang, saya tidak tahu bagaimana seorang anak bisa menjadi atlet seperti Susi Susanti misalnya. Bagaimana bisa masuk ke pelatnas, dan mengembangkan karir menjadi seorang atlet rasanya saya tidak memiliki gambaran sama sekali pada saat itu.

 

 

3. Kuliah di Jurusan Teknik

culinary schools games kuliner untuk anak


Hari ini banyak orang tua yang terobsesi agar anaknya masuk ke perguruan tinggi Teknik ternama di Indonesia, sayangnya banyak orang tua yang mungkin tidak terlalu paham bahwa setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda.


Namun bersyukurlah bagi orang tua yang bisa melihat minat dan bakat anaknya terutama yang memiliki modalitas belajar secara kinestetik, ditambah memiliki kecerdasan logis matematis dan analitis yang baik.

 

Dua modal utama ini tentu akan menjadi senjata yang bisa digunakan untuk belajar di jurusan Teknik. Anak yang memiliki modalitas belajar kinestetik biasanya sangat senang bergerak, bereksplorasi, dan bereksperimen. Sangat cocok jika belajar pada bidang Teknik seperti Teknik metalurgi, pertambangan, elektro, mesin, arsitektur, dll. Karena biasanya perpaduan antara kecerdasan kinestetik dan logis matematis yang tinggi.


Dam bonusnya, konon katanya orang yang berprofesi dibidang Teknik ini memiliki salary yang tinggi, ya. Hmmmm.

 

Jadi inget deh, waktu kecil saya pernah merusak motor bapak dan mengambil salah satu bagian dari motor tersebut menjadi wajan kecil untuk masak-masakan, wkwkwkw. Dan saya juga senang punya Tamiya (yang nota bene mainan anak laki-laki) untuk saya bongkar kemudian saya rakit kembali.

 

4. Menjadi Tour Guide/Traveler

culinary schools games kuliner untuk anak


Anak yang memiliki modalitas belajar kinestetik sering sekali diberikan label anak nakal karena tidak bisa duduk diam dalam jangka waktu yang lama di dalam satu ruangan. Yaps, itu pun yang saya rasakan sejak kecil hingga saat ini. Rasanya ingin sekali berjalan-jalan dan bergerak ke luar ruangan ketika sudah lama merasa ‘terkurung’ di antara dinding-dinding.


Menjadi Tour Guide adalah salah satu pilihan profesi seorang anak yang memiliki modalitas belajar kinestetik sekaligus suka dengan tantangan, petualangan dan kegiatan eksplorasi. Menjadi tour guide juga bisa membuka peluang untuk menjadi seorang pebisnis dalam usaha tour and travel, lho, Ma. Bisa juga memiliki usaha biro perjalanan haji dan umroh.


Selain itu, di era digital seperti sekarang ini, kemampuan kita untuk mengeksplorasi dunia ini bisa menjadikan kita seorang travel blogger atau pun travel vlogger. Dimana selain bisa memenuhi segala minat dan bakat yang dimiliki, sekaligus bisa mengisi pundi-pundi rupiah lewat media sosial.


Siapa sih, yang ngga  tahu profesi content creator sekarang ini? Bahkan orang-orang berlomba untuk menjadi content creator diberbagai platform media sosial yang ada.

 

Baca Juga: 25+ Tips Menjadi Travel Blogger ala Marischka Prudence


5. Menjadi Chef (Juru Masak)

culinary schools games kuliner untuk anak

Jadi juru masak? Duh, kalau zaman dulu, sih masih awam, ya. Masyarakat kita dengan profesi yang satu ini. Lapangan pekerjaannya pun mungkin terbatas hanya di restoran atau pun hotel mewah saja. Namun zaman sekarang, profesi sebagai chef atau juru masak ini sangat diminati dan perhitungkan.

 

Siapa sih yang ngga kenal dengan Chef Juna, Chef Arnold, dan Chef Renata? Mereka adalah chef atau juru masak yang diakui karyanya oleh masyarakat Indonesia. Bahkan Chef Juna dan Chef Arnold itu ngga sengaja, lho, jadi Chef. Karena memang ada bakat dan kesempatan, juga kegigihan untuk belajar, Voila! Mereka menjadi chef hebat ya, sekarang.

 

Anak yang memiliki modalitas belajar kinestetik juga bisa menjadi chef, lho, Ma. Karena memang profesi sebagai chef juga mengharuskan kita untuk aktif bergerak, menggunakan skill memasak yang juga menggunakan olah tubuh seperti tangan dan jari. 


Tidak ada salahnya untuk mengarahkan bakat dan minat anak untuk menjadi seorang chef atau juru masak apalagi jika anak kita juga memiliki ketertarikan di bidang kuliner.

 

Game Edukatif bertema Kuliner


Bicara soal kuliner, agar anak-anak yang memiliki ketertarikan di dunia kuliner mendapatkan stimulus, anak-anak bisa diarahkan untuk membantu memasak di dapur, membuat kue, atau merencanakan makanan untuk keluarga.


Tidak melulu secara nyata (di dapur), kita juga bisa menstimulasi mereka dengan menggunakan games yang bertema kuliner juga lho, Ma. Apalagi games-games seperti ini mudah diakses secara online dan juga FREE alias gratis.


Jadi dari pada anak-anak bermain games yang mungkin tidak edukatif, lebih baik diarahkan kepada games yang memang menstimulasi apa yang menjadi minat dan bakat mereka.


culinary schools games kuliner untuk anak


Salah satu games online seputar dunia kuliner yang bisa diakses oleh anak-anak adalah www.culinaryschools.org Saya sendiri Sudah mencoba membuka website-nya, banyak tersedia games untuk anak yang  terkait dengan kuliner atau pun makanan/masakan.

 

Games yang ada di sana pun tidak terlalu rumit untuk dimainkan, dan tidak membuat anak berfikir terlalu keras. Saya rasa bisa membantu anak untuk mengenal bahan makanan, asal bahan makanan, mengelola bahan makanan, perkebunan dan pertanian makanan, bisnis kuliner, dan lain sebagainya. Ini merupakan tema games yang cocok untuk dimainkan oleh anak karena bersifat edukatif.


Berikut adalah sedikit review dari saya tentang www.culinaryschools.org, yaa.


culinary schools games kuliner untuk anak


culinary schools games kuliner untuk anak
Games yang cocok untuk anak usia dini


culinary schools games kuliner untuk anak


culinary schools games kuliner untuk anak



culinary schools games kuliner untuk anak


culinary schools games kuliner untuk anak


culinary schools games kuliner untuk anak


culinary schools games kuliner untuk anak


culinary schools games kuliner untuk anak

culinary schools games kuliner untuk anak


culinary schools games kuliner untuk anak


culinary schools games kuliner untuk anak

***


Itu dia beberapa profesi yang mungkin akan menjadi pilihan anak yang memiliki modalitas belajar kinestetik. Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Mama semua, jangan sampai menjustifikasi anak aktif itu nakal atau bermasalah. Karena saya merasakan sendiri bahwa dijudge seperti itu tidak enak Sekali rasanya.


Padahal yang anak lakukan hanya lah belajar dan memenuhi rasa ingin tahu yang tinggi, dan memang Allah SWT memberikan kelebihan kepada Indera peraba dan alat gerak yang lebih peka dan lebih lincah dari anak yang lainnya.

 

Alih-alih dijudge, lebih baik diarahkan dan dibimbing agar anak kinestetik ini bisa tumbuh sesuai dengan apa yang ia inginkan dan apa yang ia rasakan selama ini.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat ya, Ma.


Ada yang ingin berbagi pengalaman juga seputar anak kinestetik? Yuk, sharing di kolom komentar :D