Diberdayakan oleh Blogger.

5 Kesalahan Sepele yang Sering Dilakukan Oleh Para Traveler


Menjadi seorang traveler memang menyenangkan. Kita bisa melihat berbagai pesona dunia dengan mata kepala sendiri. Tidak lagi melalui sebuah layar. 

Namun traveling tidaklah semudah itu. Sebab, tidak jarang traveler harus berhadapan dengan berbagai kendala yang tidak terduga. Bagi Kamu yang ingin memulai hobi sebagai traveler, tentunya tidak ingin menghadapi situasi-situasi itu bukan? 

Untuk itu, berikut ini beberapa kesalahan umum para traveler yang bisa Kamu hindari.

1. Membawa terlalu banyak barang

Bisa jadi, Kita traveling ke tempat yang sama sekali baru, sehingga Kita tidak bisa memperkirakan barang apa yang akan diperlukan selama traveling. 

Jadi, besar kemungkinan Kita akan membawa terlalu banyak barang untuk berjaga jaga. Untuk itu, sebaiknya Kitaa hanya membawa barang yang memang benar-benar diperlukan. 

Tidak perlu membawa barang-barang yang mungkin diperlukan. Selain tidak efektif, bagasi Kita pun bisa kelebihan beban.

2. Terlalu boros 

Selama traveling pasti Kita akan merasakan euforia yang bisa menjadi bumerang apabila tidak dikelola dengan baik. 

Meskipun Kita adalah tipe orang yang hemat, bukan tidak mungkin Kita berubah menjadi orang yang boros ketika sedang traveling. 

Sebab, rasa senang dari traveling ini membuat mengeluarkan uang jauh lebih ringan. Sehingga tidak sering para traveler ini kehabisan biaya di tengah-tengah masa liburannya. 

Hasilnya banyak traveler yang berubah menjadi pengamen ataupun pekerja kasar.

3. Tidak menyiapkan salinan dokumen penting

Ketika sedang traveling, Kita adalah pendatang. Jadi, sebisa mungkin harus selalu membawa dokumen-dokumen penting yang bisa membuktikan identitas Kita. 

Baik ketika traveling ke luar maupun di dalam negeri, identitas diri sangatlah penting. Selain untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal darurat, dokumen-dokumen penting ini dapat mencegah Kita untuk dipulangkan secara paksa oleh pemerintah setempat.

Namun membawa dokumen penting saja belum cukup. Sebaiknya, Kita juga menyiapkan salinan dari dokumen-dokumen ini untuk berjaga-jaga.

4. Itinerary terlalu padat

Tidak ada orang yang mau travelingnya kacau. Jadi, banyak dari traveler yang sudah merancang itinerary jauh-jauh hari.

Tempat apa yang harus dikunjungi, kuliner apa yang harus dicicipi, atau siapa yang harus ditemui. Namun, sayangnya banyak dari traveler yang justru terlalu banyak merancang rencana, hingga itinerary mereka sangat berdekatan satu sama lain.

Padahal banyak hal tak terduga yang bisa terjadi selama traveling. Misalnya saja penerbangan delay, cuaca buruk, atau transportasi darat yang terjebak kemacetan. 

Untuk itu, sebaiknya sediakan jeda waktu yang wajar dalam itinerary yang Kita buat. Kita juga tidak harus mengunjungi semua tempat menarik di destinasi traveling yang telah Kita rancang sebelumnya.

5. Memilih maskapai yang memiliki jeda transit terlalu pendek

Apabila Kita akan traveling ke luar negeri, besar kemungkinan Kita harus transit terlebih dahulu. 

Transit ini pun dilakukan bukan di negara tujuan, melainkan di negara lain. Jadi, bisa saja Kita memerlukan visa tersendiri agar bisa transit di negara tersebut. Untuk mendapatkannya tentu saja tidaklah sebentar. 

Oleh karena itu, banyak para traveler yang gagal terbang dengan penerbangan selanjutnya hanya karena masalah administrasi itu. 

Jadi, sebaiknya melakukan riset terlebih dahulu saat memilih tiket penerbangan. Apabila negara yang menjadi transit memerlukan visa dan keperluan administrasi lainnya, sebaiknya pilih penerbangan dengan masa transit yang cukup panjang. 

Dengan demikian, Kita dapat mengurus dokumen-dokumen penting dengan lebih leluasa. 

Namun kalau tidak ingin repot mengurus visa transit, sebaiknya memilih penerbangan direct saja. Misalnya, Kita akan berlibur ke Hong Kong, maka Kita bisa memilih Cathay Pacific. 

Selain nyaman, maskapai ini juga menyediakan penerbangan langsung. Sehingga Kita bisa langsung traveling bebas repot.

5 Kesalahan Sepele yang Sering Dilakukan Oleh Para Traveler


Menjadi seorang traveler memang menyenangkan. Kita bisa melihat berbagai pesona dunia dengan mata kepala sendiri. Tidak lagi melalui sebuah layar. 

Namun traveling tidaklah semudah itu. Sebab, tidak jarang traveler harus berhadapan dengan berbagai kendala yang tidak terduga. Bagi Kamu yang ingin memulai hobi sebagai traveler, tentunya tidak ingin menghadapi situasi-situasi itu bukan? 

Untuk itu, berikut ini beberapa kesalahan umum para traveler yang bisa Kamu hindari.

1. Membawa terlalu banyak barang

Bisa jadi, Kita traveling ke tempat yang sama sekali baru, sehingga Kita tidak bisa memperkirakan barang apa yang akan diperlukan selama traveling. 

Jadi, besar kemungkinan Kita akan membawa terlalu banyak barang untuk berjaga jaga. Untuk itu, sebaiknya Kitaa hanya membawa barang yang memang benar-benar diperlukan. 

Tidak perlu membawa barang-barang yang mungkin diperlukan. Selain tidak efektif, bagasi Kita pun bisa kelebihan beban.

2. Terlalu boros 

Selama traveling pasti Kita akan merasakan euforia yang bisa menjadi bumerang apabila tidak dikelola dengan baik. 

Meskipun Kita adalah tipe orang yang hemat, bukan tidak mungkin Kita berubah menjadi orang yang boros ketika sedang traveling. 

Sebab, rasa senang dari traveling ini membuat mengeluarkan uang jauh lebih ringan. Sehingga tidak sering para traveler ini kehabisan biaya di tengah-tengah masa liburannya. 

Hasilnya banyak traveler yang berubah menjadi pengamen ataupun pekerja kasar.

3. Tidak menyiapkan salinan dokumen penting

Ketika sedang traveling, Kita adalah pendatang. Jadi, sebisa mungkin harus selalu membawa dokumen-dokumen penting yang bisa membuktikan identitas Kita. 

Baik ketika traveling ke luar maupun di dalam negeri, identitas diri sangatlah penting. Selain untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal darurat, dokumen-dokumen penting ini dapat mencegah Kita untuk dipulangkan secara paksa oleh pemerintah setempat.

Namun membawa dokumen penting saja belum cukup. Sebaiknya, Kita juga menyiapkan salinan dari dokumen-dokumen ini untuk berjaga-jaga.

4. Itinerary terlalu padat

Tidak ada orang yang mau travelingnya kacau. Jadi, banyak dari traveler yang sudah merancang itinerary jauh-jauh hari.

Tempat apa yang harus dikunjungi, kuliner apa yang harus dicicipi, atau siapa yang harus ditemui. Namun, sayangnya banyak dari traveler yang justru terlalu banyak merancang rencana, hingga itinerary mereka sangat berdekatan satu sama lain.

Padahal banyak hal tak terduga yang bisa terjadi selama traveling. Misalnya saja penerbangan delay, cuaca buruk, atau transportasi darat yang terjebak kemacetan. 

Untuk itu, sebaiknya sediakan jeda waktu yang wajar dalam itinerary yang Kita buat. Kita juga tidak harus mengunjungi semua tempat menarik di destinasi traveling yang telah Kita rancang sebelumnya.

5. Memilih maskapai yang memiliki jeda transit terlalu pendek

Apabila Kita akan traveling ke luar negeri, besar kemungkinan Kita harus transit terlebih dahulu. 

Transit ini pun dilakukan bukan di negara tujuan, melainkan di negara lain. Jadi, bisa saja Kita memerlukan visa tersendiri agar bisa transit di negara tersebut. Untuk mendapatkannya tentu saja tidaklah sebentar. 

Oleh karena itu, banyak para traveler yang gagal terbang dengan penerbangan selanjutnya hanya karena masalah administrasi itu. 

Jadi, sebaiknya melakukan riset terlebih dahulu saat memilih tiket penerbangan. Apabila negara yang menjadi transit memerlukan visa dan keperluan administrasi lainnya, sebaiknya pilih penerbangan dengan masa transit yang cukup panjang. 

Dengan demikian, Kita dapat mengurus dokumen-dokumen penting dengan lebih leluasa. 

Namun kalau tidak ingin repot mengurus visa transit, sebaiknya memilih penerbangan direct saja. Misalnya, Kita akan berlibur ke Hong Kong, maka Kita bisa memilih Cathay Pacific. 

Selain nyaman, maskapai ini juga menyediakan penerbangan langsung. Sehingga Kita bisa langsung traveling bebas repot.

[Opini] Kurangnya Pendidikan Peran Perempuan dalam Kurikulum Sekolah


"Aku pengen resign, tapi masih belum bisa. Orang tua gak kasih izin, keluarga juga masih perlu sokongan ekonomi tambahan. Tapi jujur aja, aku galau banget sama anak."

"Sedih, aku merasa useless banget di rumah. Ibu nyuruh aku kerja, karena udah capek-capek sekolahin aku sampe sarjana, tapi malah di rumah terus, cuman momong anak. Aku merasa sakit hati dan gak berguna jadinya."

...

Dialog curhat seperti di atas itu seperti familiar. Yaps, familiar di kalangan perempuan atau ibu yang memutuskan bekerja di kantor atau tinggal di rumah, full ngasuh anak dan beberes setiap harinya. 

Kegalauan seperti ini sering sekali saya dengar dari teman-teman. Walau sekedar update status media sosial, atau curhat langsung ke saya. 

Saya ngerti kenapa mereka galau, toh saya pun pernah berada di posisi mereka. Sama-sama bingung antara anak dan eksistensi diri melalui pekerjaan.


Ujung-ujungnya, para perempuan atau ibu ini melakukan pembelaan diri dan pembenaran, atau kita kenal istilahnya Mom War, antara ibu bekerja dengan ibu rumah tangga.

Mom war yang tak kunjung usai, bahkan sampai muncul kata-kata ataupun gambar yang menyakitkan, baik untuk ibu bekerja maupun ibu rumah tangga.

Sebenernya, kalau saya boleh ngajak temen-temen berpikir sejenak, semua kegamangan dan pertarungan opini antara ibu bekerja vs ibu rumah tangga, gak harus terjadi jika kurikulum pendidikan di Indonesia agak diretouch sedikit mengenai peran gender atau jenis kelamin. Yaitu laki-laki dan perempuan.

Jadi, semata bukan karena pribadi masing-masing yang senengnya war atau gontok-gontokan, tapi lebih jauh lagi, ini semua dikarenakan kurikulum pendidikan Indonesia yang masih sangat kurang dalam memberikan edukasi tentang peran laki-laki dan perempuan di dalam hidup ini, tsahh.

Sex Education emang sering digembar-gemborkan, tapi lebih ke arah edukasi sex secara fisik, seperti pengenalan alat reproduksi, bagaimana menjaga tubuh kita dari orang lain, dll. 

Bagus sih, tapi menurut saya tetep kurang. Karena anak perempuan dan laki-laki juga perlu diberi tau sejak dini, peran perempuan dan laki-laki secara sosial, apa saja tanggung jawabnya, apa saja kewajibannya, dan apa saja tantangannya.

Baca juga: Dari Si Tomboy Jadi Si Feminim

Balik lagi ke peran perempuan dan laki-laki di masyarakat.

Sadar kah kita kalau dari kecil  kita diajarkan hal yang sama dengan laki-laki, ibarat kata, gak ada bedanya dengan teman laki-laki kita.

Secara materi semua plek ketiplek sama. Guru-guru berbasis mata pelajaran tentunya mengajarkan materi pelajaran yang sama seperti Trigonometri, Arus listrik, Penyerbukan, Reaksi Kimia, dan lain sebagainya.

Semuanya sama, tak ada perbedaan bukan? Bahkan kadang yang perempuan lebih jago ngitung jumlah rantai karbon dibanding laki-laki, padahal yang banyak kerja di pertambangan kan Bapak-bapak, yang bersinggungan sama bidang tersebut.

Menurut saya, tetap harus ada pendidikan/pembelajaran yang "membedakan" antara laki-laki dan perempuan. Terutama dalam memahami peran gendernya ketika ia terus beranjak dewasa.

Jangan sampai ketika dewasa anak perempuan itu berpikir "Ya emang dari kecil, gue diajarin ilmu x y z, ya mau gak mau, gue harus pake buat kerja."

Kita, orang dewasa ini macam disuruh mikir "lah kan emang begini seharusnya, lah kan emang sekolah itu buat kerja." Thats it.

Hmmmmm.

Kurikulum Indrustial

Indonesia memang menganut sistem kurikulum Industrial dimana terinspirasi dengan adanya Revolusi Industri.




Makanya, sejak dulu, kalau kita perhatikan semua mata pelajaran yang kita terima adalah berbasis kompetensi alias keahlian melakukan sesuatu yang sudah tersistem. Apalagi kurikulum SMK, mata pelajarannya adalah untuk melakukan hal tertentu yang terstruktur dan terorganisir. 

Kenapa seperti itu? Karena memang, kurikulum Industrial itu menyiapkan lulusannya menjadi seorang pekerja.

Bahkan, waktu kecil, saya kebayangnya kalau udah gede bakal jadi kasir di supermarket loh, suwer

Ya ampun itu kalau inget jadi ngakak sendiri.

Oleh karena itu, dengan adanya kurikulum 2013 berbasis karakter, saya sungguh gembira. Pemikiran akan kognitif yang agung sudah mulai berkurang. Anak-anak lebih dibina karakternya selain kognitifnya. Walau pun tetep sih, di lapangan ada yang tetap mengagung-agungkan  nilai ulangan, nilai ujian, nilai matematik, dsb.

Tetep ya, orang tuanya terbawa nuansa zaman dulu pas sekolah, dimana nilai kognitif dan rangking yang jadi acuan kecerdasan anak.

Galau Akan Masa Depan

Coba deh, siapa yang cita-cita masa kecil, gak sinkron sama kerjaan atau pun kondisi masa kini? Berapa banyak sih orang yang sukses meraih cita-cita masa kecilnya? Dan beneran happy dengan keadaannya sekarang?

Ya mungkin ada, tapi ga banyak. Trus kita termasuk yang mana?

Ada gak sih yang mikir, "kok tiba-tiba gue jadi guru ya? Tiba-tiba gue jadi PNS? Tiba-tiba gue jadi blogger?" Semuanya bak diluar rencana.

Tak Tahu Peran, Tak Punya Pilihan

Karena ketika kita gak tau siapa diri kita, apa peran kita, ujung-ujungnya kita gak punya pilihan, ketetapan hati, dan keputusan di masa depan.

Dosen saya dulu pernah nyeletuk, "Udah gak zaman tuh sekarang Ibu memasak di dapur, ayah berangkat ke kantor. Karena sekarang, ibu juga bisa berangkat ke Kantor dan Ayah bisa masak di dapur."

Iya sih, tapi kok saya dengernya gak enak ya waktu itu. Seakan-akan gak ada batasan lagi antara tanggung jawab laki-laki dan perempuan.

Baca Juga: Susahnya Menikah

Karena pesan pendidikan yang blur tentang peran perempuan dan laki-laki ini, jujur aja, saya pun merasa jadi korban dan menjadi generasi yang kebingungan.

Gak punya pandangan, pemahaman, dan keputusan sejak kecil. Kehidupan dijalani dengan let it flow tanpa gambaran yang jelas tentang masa depan akan seperti apa, pekerjaan apa yang bisa dilakukan, peran apa yang harus saya "mainkan" semuanya tak terencana sejak di bangku sekolah dasar.

Padahal kita sekolah lama loh, TK 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, Kuliah 4 tahun. 17 tahun yang sia-sia kalau sampai gak tau tujuan hidup sendiri *so sad

Peran Guru

Di sekolah, memang pelaksana kurikulum yang paling utama adalah guru. Tapi, dengan beban mata pelajaran yang begitu berat, apa masih bisa mengakomodir hal lainnya dengan segala keterbatasannya?

Guru Bimbingan Konseling

Memang sih, guru BK paling pas untuk jadi konselor atau orang tua yang mengarahkan anak didik diluar mata pelajaran, tapi kadang guru BK lebih identik dengan kasus anak, kedisiplinan, dll. Dan guru BK juga hanya ada di tingkatan sekolah menengah saja, padahal di tingkat sekolah dasar pun, fungsi dan peran perempuan dan laki-laki itu penting disampaikan.

Ini bisa jadi salah satu solusi, peran guru BK ini harusnya lebih diarahkan untuk memberikan gambaran peran dan tanggung jawab anak-anak di masa depan nanti, termasuk peran gendernya sebagai perempuan dan laki-laki. Perannya dalam membangun keluarga, masyarakat, membangun bangsa dan lainnya.

Bukan hanya soal profesi atau cita-cita sebagai seorang xxxxx, tapi berbagai peran yang akan disandang oleh manusia dewasa harus bisa dijelaskan oleh seorang guru BK di sekolah. 


Jangan Meremehkan Anak Usia Sekolah Dasar

Karena di usia ini lah anak-anak akan sering bertanya "eksistensinya" di dunia ini. Mulai dari "asalnya dari mana" "terbuat dari apa" "kenapa kita ada"  dan bahkan anak-anak suka berimajinasi ingin jadi apa kelak dia ketika dewasa dengan cara belajar dari lingkungan sosial.

Mengenal Peran Gender Sejak Kecil, Meminimalisir Kegalauan di Masa Depan


Seperti yang sudah saya katakan di atas, kita menjadi generasi yang kebingungan karena kita kurang atau bahkan tidak paham tugas dan fungsi kita masing-masing.

Sebagai perempuan, sejak kecil kita tidak menerima pendidikan yang lengkap mengenai tugas dan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.  Tidak semua keluarga mengerti bagaimana mengedukasi anak-anaknya akan perannya sebagai perempuan dan laki-laki.

Bersyukurlah kalau kamu dilahirkan dari keluarga yang memang mengerti dan paham cara mengarahkan anak. Sehingga, ketika dewasa, anak sudah tidak kebingungan dan mantap mengambil peran di masyarakat.

Lah kalau ngga?

Agar Perempuan Tidak Berujung Pada Kegalauan

Andai peran dan fungsi perempuan di keluarga dan masyarakat diajarkan sejak dini, mungkin Mom war tentang ibu bekerja dan ibu rumah tangga akan bisa diminimalisir.




Pertama, mental perempuan akan lebih siap. Karena sudah ada gambaran akan masa depan. Jika bekerja akan lebih siap mempersiapkan mental, diri, kompetensi, dan pengetahuan tentang seluk beluk ibu bekerja.

Kedua, begitupun dengan Ibu rumah tangga. Memilih jadi ibu rumah tangga karena pilihan dan kesiapan mental, bukan hanya nasib semata. Dan sudah tau, apa yang akan dilakukan jika saya tidak bekerja di kantor. Menjadi seorang wirausahawan kah, menjadi seorang relawan di dunia pilantropi kah, atau menjadi pelayan masyarakat dengan aktif di komunitas.

Baca juga: 5 Inspirasi Wirausaha Bagi Muslimah dari Brand Tas Heejou

Coba deh bayangin, jika pendidikan kita sudah berpikir sejauh ini. Khususnya bagi perempuan, maka hidupnya akan lebih bahagia dan jauh dari kegalauan, antara bekerja atau tidak.

Karena semuanya sudah dipersiapkan sejak kecil, mentalnya disiapkan, diberikan informasi yang lengkap tentang kemungkinan atau resiko dari pilihan yang akan diputuskan. Perempuan pun gak akan saling "serang", saling menjatuhkan karena alasan pilihan hidup.

Ibu bekerja bahagia dan mantap dengan keputusannya, ibu di rumah pun bergembira karena ini merupakan gambaran kehidupan idealnya sejak kecil.

Gak galau dan gak merasa salah dalam ambil keputusan.

"Karena ibu yang bahagia itu adalah koentji untuk melahirkan generasi yang bahagia, dan semuanya sudah dipersiapkan dengan baik bahkan semenjak sang ibu masih belajar mengeja namanya sendiri."


Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi berdasarkan pengalaman dan pengamatan, dan tidak menerima perdebatan dalam bentuk apapun. Terima kasih :D

[Opini] Kurangnya Pendidikan Peran Perempuan dalam Kurikulum Sekolah


"Aku pengen resign, tapi masih belum bisa. Orang tua gak kasih izin, keluarga juga masih perlu sokongan ekonomi tambahan. Tapi jujur aja, aku galau banget sama anak."

"Sedih, aku merasa useless banget di rumah. Ibu nyuruh aku kerja, karena udah capek-capek sekolahin aku sampe sarjana, tapi malah di rumah terus, cuman momong anak. Aku merasa sakit hati dan gak berguna jadinya."

...

Dialog curhat seperti di atas itu seperti familiar. Yaps, familiar di kalangan perempuan atau ibu yang memutuskan bekerja di kantor atau tinggal di rumah, full ngasuh anak dan beberes setiap harinya. 

Kegalauan seperti ini sering sekali saya dengar dari teman-teman. Walau sekedar update status media sosial, atau curhat langsung ke saya. 

Saya ngerti kenapa mereka galau, toh saya pun pernah berada di posisi mereka. Sama-sama bingung antara anak dan eksistensi diri melalui pekerjaan.


Ujung-ujungnya, para perempuan atau ibu ini melakukan pembelaan diri dan pembenaran, atau kita kenal istilahnya Mom War, antara ibu bekerja dengan ibu rumah tangga.

Mom war yang tak kunjung usai, bahkan sampai muncul kata-kata ataupun gambar yang menyakitkan, baik untuk ibu bekerja maupun ibu rumah tangga.

Sebenernya, kalau saya boleh ngajak temen-temen berpikir sejenak, semua kegamangan dan pertarungan opini antara ibu bekerja vs ibu rumah tangga, gak harus terjadi jika kurikulum pendidikan di Indonesia agak diretouch sedikit mengenai peran gender atau jenis kelamin. Yaitu laki-laki dan perempuan.

Jadi, semata bukan karena pribadi masing-masing yang senengnya war atau gontok-gontokan, tapi lebih jauh lagi, ini semua dikarenakan kurikulum pendidikan Indonesia yang masih sangat kurang dalam memberikan edukasi tentang peran laki-laki dan perempuan di dalam hidup ini, tsahh.

Sex Education emang sering digembar-gemborkan, tapi lebih ke arah edukasi sex secara fisik, seperti pengenalan alat reproduksi, bagaimana menjaga tubuh kita dari orang lain, dll. 

Bagus sih, tapi menurut saya tetep kurang. Karena anak perempuan dan laki-laki juga perlu diberi tau sejak dini, peran perempuan dan laki-laki secara sosial, apa saja tanggung jawabnya, apa saja kewajibannya, dan apa saja tantangannya.

Baca juga: Dari Si Tomboy Jadi Si Feminim

Balik lagi ke peran perempuan dan laki-laki di masyarakat.

Sadar kah kita kalau dari kecil  kita diajarkan hal yang sama dengan laki-laki, ibarat kata, gak ada bedanya dengan teman laki-laki kita.

Secara materi semua plek ketiplek sama. Guru-guru berbasis mata pelajaran tentunya mengajarkan materi pelajaran yang sama seperti Trigonometri, Arus listrik, Penyerbukan, Reaksi Kimia, dan lain sebagainya.

Semuanya sama, tak ada perbedaan bukan? Bahkan kadang yang perempuan lebih jago ngitung jumlah rantai karbon dibanding laki-laki, padahal yang banyak kerja di pertambangan kan Bapak-bapak, yang bersinggungan sama bidang tersebut.

Menurut saya, tetap harus ada pendidikan/pembelajaran yang "membedakan" antara laki-laki dan perempuan. Terutama dalam memahami peran gendernya ketika ia terus beranjak dewasa.

Jangan sampai ketika dewasa anak perempuan itu berpikir "Ya emang dari kecil, gue diajarin ilmu x y z, ya mau gak mau, gue harus pake buat kerja."

Kita, orang dewasa ini macam disuruh mikir "lah kan emang begini seharusnya, lah kan emang sekolah itu buat kerja." Thats it.

Hmmmmm.

Kurikulum Indrustial

Indonesia memang menganut sistem kurikulum Industrial dimana terinspirasi dengan adanya Revolusi Industri.




Makanya, sejak dulu, kalau kita perhatikan semua mata pelajaran yang kita terima adalah berbasis kompetensi alias keahlian melakukan sesuatu yang sudah tersistem. Apalagi kurikulum SMK, mata pelajarannya adalah untuk melakukan hal tertentu yang terstruktur dan terorganisir. 

Kenapa seperti itu? Karena memang, kurikulum Industrial itu menyiapkan lulusannya menjadi seorang pekerja.

Bahkan, waktu kecil, saya kebayangnya kalau udah gede bakal jadi kasir di supermarket loh, suwer

Ya ampun itu kalau inget jadi ngakak sendiri.

Oleh karena itu, dengan adanya kurikulum 2013 berbasis karakter, saya sungguh gembira. Pemikiran akan kognitif yang agung sudah mulai berkurang. Anak-anak lebih dibina karakternya selain kognitifnya. Walau pun tetep sih, di lapangan ada yang tetap mengagung-agungkan  nilai ulangan, nilai ujian, nilai matematik, dsb.

Tetep ya, orang tuanya terbawa nuansa zaman dulu pas sekolah, dimana nilai kognitif dan rangking yang jadi acuan kecerdasan anak.

Galau Akan Masa Depan

Coba deh, siapa yang cita-cita masa kecil, gak sinkron sama kerjaan atau pun kondisi masa kini? Berapa banyak sih orang yang sukses meraih cita-cita masa kecilnya? Dan beneran happy dengan keadaannya sekarang?

Ya mungkin ada, tapi ga banyak. Trus kita termasuk yang mana?

Ada gak sih yang mikir, "kok tiba-tiba gue jadi guru ya? Tiba-tiba gue jadi PNS? Tiba-tiba gue jadi blogger?" Semuanya bak diluar rencana.

Tak Tahu Peran, Tak Punya Pilihan

Karena ketika kita gak tau siapa diri kita, apa peran kita, ujung-ujungnya kita gak punya pilihan, ketetapan hati, dan keputusan di masa depan.

Dosen saya dulu pernah nyeletuk, "Udah gak zaman tuh sekarang Ibu memasak di dapur, ayah berangkat ke kantor. Karena sekarang, ibu juga bisa berangkat ke Kantor dan Ayah bisa masak di dapur."

Iya sih, tapi kok saya dengernya gak enak ya waktu itu. Seakan-akan gak ada batasan lagi antara tanggung jawab laki-laki dan perempuan.

Baca Juga: Susahnya Menikah

Karena pesan pendidikan yang blur tentang peran perempuan dan laki-laki ini, jujur aja, saya pun merasa jadi korban dan menjadi generasi yang kebingungan.

Gak punya pandangan, pemahaman, dan keputusan sejak kecil. Kehidupan dijalani dengan let it flow tanpa gambaran yang jelas tentang masa depan akan seperti apa, pekerjaan apa yang bisa dilakukan, peran apa yang harus saya "mainkan" semuanya tak terencana sejak di bangku sekolah dasar.

Padahal kita sekolah lama loh, TK 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, Kuliah 4 tahun. 17 tahun yang sia-sia kalau sampai gak tau tujuan hidup sendiri *so sad

Peran Guru

Di sekolah, memang pelaksana kurikulum yang paling utama adalah guru. Tapi, dengan beban mata pelajaran yang begitu berat, apa masih bisa mengakomodir hal lainnya dengan segala keterbatasannya?

Guru Bimbingan Konseling

Memang sih, guru BK paling pas untuk jadi konselor atau orang tua yang mengarahkan anak didik diluar mata pelajaran, tapi kadang guru BK lebih identik dengan kasus anak, kedisiplinan, dll. Dan guru BK juga hanya ada di tingkatan sekolah menengah saja, padahal di tingkat sekolah dasar pun, fungsi dan peran perempuan dan laki-laki itu penting disampaikan.

Ini bisa jadi salah satu solusi, peran guru BK ini harusnya lebih diarahkan untuk memberikan gambaran peran dan tanggung jawab anak-anak di masa depan nanti, termasuk peran gendernya sebagai perempuan dan laki-laki. Perannya dalam membangun keluarga, masyarakat, membangun bangsa dan lainnya.

Bukan hanya soal profesi atau cita-cita sebagai seorang xxxxx, tapi berbagai peran yang akan disandang oleh manusia dewasa harus bisa dijelaskan oleh seorang guru BK di sekolah. 


Jangan Meremehkan Anak Usia Sekolah Dasar

Karena di usia ini lah anak-anak akan sering bertanya "eksistensinya" di dunia ini. Mulai dari "asalnya dari mana" "terbuat dari apa" "kenapa kita ada"  dan bahkan anak-anak suka berimajinasi ingin jadi apa kelak dia ketika dewasa dengan cara belajar dari lingkungan sosial.

Mengenal Peran Gender Sejak Kecil, Meminimalisir Kegalauan di Masa Depan


Seperti yang sudah saya katakan di atas, kita menjadi generasi yang kebingungan karena kita kurang atau bahkan tidak paham tugas dan fungsi kita masing-masing.

Sebagai perempuan, sejak kecil kita tidak menerima pendidikan yang lengkap mengenai tugas dan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.  Tidak semua keluarga mengerti bagaimana mengedukasi anak-anaknya akan perannya sebagai perempuan dan laki-laki.

Bersyukurlah kalau kamu dilahirkan dari keluarga yang memang mengerti dan paham cara mengarahkan anak. Sehingga, ketika dewasa, anak sudah tidak kebingungan dan mantap mengambil peran di masyarakat.

Lah kalau ngga?

Agar Perempuan Tidak Berujung Pada Kegalauan

Andai peran dan fungsi perempuan di keluarga dan masyarakat diajarkan sejak dini, mungkin Mom war tentang ibu bekerja dan ibu rumah tangga akan bisa diminimalisir.




Pertama, mental perempuan akan lebih siap. Karena sudah ada gambaran akan masa depan. Jika bekerja akan lebih siap mempersiapkan mental, diri, kompetensi, dan pengetahuan tentang seluk beluk ibu bekerja.

Kedua, begitupun dengan Ibu rumah tangga. Memilih jadi ibu rumah tangga karena pilihan dan kesiapan mental, bukan hanya nasib semata. Dan sudah tau, apa yang akan dilakukan jika saya tidak bekerja di kantor. Menjadi seorang wirausahawan kah, menjadi seorang relawan di dunia pilantropi kah, atau menjadi pelayan masyarakat dengan aktif di komunitas.

Baca juga: 5 Inspirasi Wirausaha Bagi Muslimah dari Brand Tas Heejou

Coba deh bayangin, jika pendidikan kita sudah berpikir sejauh ini. Khususnya bagi perempuan, maka hidupnya akan lebih bahagia dan jauh dari kegalauan, antara bekerja atau tidak.

Karena semuanya sudah dipersiapkan sejak kecil, mentalnya disiapkan, diberikan informasi yang lengkap tentang kemungkinan atau resiko dari pilihan yang akan diputuskan. Perempuan pun gak akan saling "serang", saling menjatuhkan karena alasan pilihan hidup.

Ibu bekerja bahagia dan mantap dengan keputusannya, ibu di rumah pun bergembira karena ini merupakan gambaran kehidupan idealnya sejak kecil.

Gak galau dan gak merasa salah dalam ambil keputusan.

"Karena ibu yang bahagia itu adalah koentji untuk melahirkan generasi yang bahagia, dan semuanya sudah dipersiapkan dengan baik bahkan semenjak sang ibu masih belajar mengeja namanya sendiri."


Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi berdasarkan pengalaman dan pengamatan, dan tidak menerima perdebatan dalam bentuk apapun. Terima kasih :D

Ini Dia Keuntungan Berada di Hotel Bintang 5 di Jakarta yang Harus Kamu Ketahui


Harapan orang-orang terhadap fasilitas hotel dapat berbeda yaa. Bahkan setelah menginap di hotel yang sama, akan ada pemandangan yang sedikit berbeda dari dua orang yang berbeda.

Namun ada beberapa hotel, yang menjadikan hal ini sebagai masalah. Terlebih lagi jika Kita berada di hotel bintang 5 di Jakarta yang memang ada beberapa hal yang harus Kita perhatikan, termasuk pelayanan yang seharusnya Kita dapatkan dari hotel mewah.

Inilah keuntungan yang akan Kita dapatkan dari hotel bintang 5, yaitu:

Layanan penuh pertimbangan, tidak mengganggu dan dapat diandalkan.

Tentunya salah satu hal yang penting dan menentukan adalah hotel mana yang dapat menawarkan fasilitas yang kita inginkan. Karena hotel bintang 5 yang benar-benar hebat, menjadikan fasilitas yang diinginkan pelanggan ini tertanam ke dalam benak staf mereka. 

Mendapatkan staf pembersih misalnya dari seorang manajer untuk memberikan pelayanan apa pun yang diperlukan oleh pelanggan, bukanlah hal yang mudah. Terutama ketika orang menganggap karyawan di bisnis perhotelan ini memiliki perputaran yang cepat.

Jika staf tidak peduli maka para tamu juga tidak akan merasa puas akan pelayanan yang diberikan oleh hotel bintang 5 tersebut. 

Seorang staf yang pro-aktif, menawarkan layanan yang penuh perhatian dan dapat diandalkan, sepadan dengan harga mahal yang dibayar oleh para tamu.

Hotel mewah akan memanggil dengan nama Kita.

Hotel yang bagus akan memanggil pelanggannya dengan nama Kita secara personal. Bahkan jika ini adalah pertama kalinya Kita menginap di sana. 

Diterima dengan nama, dengan cara yang tulus, memberi Kita pelayanan yang dipersonalisasi sehingga menambahkan perasaan senang ketika Kita menginap di hotel teraebut.

Tentu saja, jika Kita pelanggan tetap, lagi-lagi, orang akan mengharapkan ucapan pribadi, tetapi lebih dari itu, pelayanan pribadi akan lebih membekas di hati.

Kenyamanan murni.

Jangan lupa mengapa kita memilih hotel tersebut. Kita akan tetap di sana baik untuk bisnis atau liburan. Apa yang kebanyakan orang pikirkan tentang hal pertama di pagi hari? 

Sebuah hotel mewah atau hotel bintang 5 di Jakarta harus menawarkan tempat tidur yang sangat baik, dengan tempat tidur yang bersih dan relatif baru. 

Jika Kita tidak dapat tidur, berarti Kita akan menghabiskan waktu dengan lelah, marah, sia-sia dan tidak akan menikmati apa yang dapat ditawarkan hotel.

Perhatian terhadap detail.

Hotel-hotel terbaik di dunia tidak murah tetapi Kita berharap mereka dapat menawarkan semua yang Kita butuhkan, termasuk layanan transfer. 

Hotel mewah juga akan menawarkan layanan berupa mobil mewah gratis atau paling tidak hotel tersebut memiliki koneksi dengan sopir taxi, sehingga pada saat Kita membutuhkan alat transportasi, pihak hotel dapat langsung menghubungi Kita dengan cepat tanpa membuat Kita menunggu terlalu lama. 

Selain itu layanan penjemputan atau pengantaran bandara lagi-lagi sangat berharga, tidak hanya menghemat waktu Kita untuk mengatur taksi, tetapi memberi Kita keamanan selama menggunakan alat transportasi tersebut.

Pelayanan hotel bintang 5 yang baik dan memuaskan bagi tamu tentunya mampu mendatangkan rasa kepuasan tersendiri bagi para tamu yang datang. 

Dari segi fasilitas dan pelayanan itulah yang membedakan antara hotel bintang 5 dengan hotel bintang 1, 2, 3 maupun 4. 

Dari segi harga pun hotel bintang 5 di Jakarta juga memiliki harga yang jauh lebih mahal. Sehingga dibalik dari harganya yang cukup mahal itulah yang menjadikan pihak hotel haruslah lebih mengedepankan pada pelayanan dan fasilitas untuk para tamu agar para tamu juga merasa puas atas pelayanan yang diberikan.

Karena mengingat bahwa tamu adalah raja. Agar Kita tidak kecewa, tak salah rasanya jika membaca travel blog terlebih dahulu agar mendapatkan referensi yang cukup.

Ini Dia Keuntungan Berada di Hotel Bintang 5 di Jakarta yang Harus Kamu Ketahui


Harapan orang-orang terhadap fasilitas hotel dapat berbeda yaa. Bahkan setelah menginap di hotel yang sama, akan ada pemandangan yang sedikit berbeda dari dua orang yang berbeda.

Namun ada beberapa hotel, yang menjadikan hal ini sebagai masalah. Terlebih lagi jika Kita berada di hotel bintang 5 di Jakarta yang memang ada beberapa hal yang harus Kita perhatikan, termasuk pelayanan yang seharusnya Kita dapatkan dari hotel mewah.

Inilah keuntungan yang akan Kita dapatkan dari hotel bintang 5, yaitu:

Layanan penuh pertimbangan, tidak mengganggu dan dapat diandalkan.

Tentunya salah satu hal yang penting dan menentukan adalah hotel mana yang dapat menawarkan fasilitas yang kita inginkan. Karena hotel bintang 5 yang benar-benar hebat, menjadikan fasilitas yang diinginkan pelanggan ini tertanam ke dalam benak staf mereka. 

Mendapatkan staf pembersih misalnya dari seorang manajer untuk memberikan pelayanan apa pun yang diperlukan oleh pelanggan, bukanlah hal yang mudah. Terutama ketika orang menganggap karyawan di bisnis perhotelan ini memiliki perputaran yang cepat.

Jika staf tidak peduli maka para tamu juga tidak akan merasa puas akan pelayanan yang diberikan oleh hotel bintang 5 tersebut. 

Seorang staf yang pro-aktif, menawarkan layanan yang penuh perhatian dan dapat diandalkan, sepadan dengan harga mahal yang dibayar oleh para tamu.

Hotel mewah akan memanggil dengan nama Kita.

Hotel yang bagus akan memanggil pelanggannya dengan nama Kita secara personal. Bahkan jika ini adalah pertama kalinya Kita menginap di sana. 

Diterima dengan nama, dengan cara yang tulus, memberi Kita pelayanan yang dipersonalisasi sehingga menambahkan perasaan senang ketika Kita menginap di hotel teraebut.

Tentu saja, jika Kita pelanggan tetap, lagi-lagi, orang akan mengharapkan ucapan pribadi, tetapi lebih dari itu, pelayanan pribadi akan lebih membekas di hati.

Kenyamanan murni.

Jangan lupa mengapa kita memilih hotel tersebut. Kita akan tetap di sana baik untuk bisnis atau liburan. Apa yang kebanyakan orang pikirkan tentang hal pertama di pagi hari? 

Sebuah hotel mewah atau hotel bintang 5 di Jakarta harus menawarkan tempat tidur yang sangat baik, dengan tempat tidur yang bersih dan relatif baru. 

Jika Kita tidak dapat tidur, berarti Kita akan menghabiskan waktu dengan lelah, marah, sia-sia dan tidak akan menikmati apa yang dapat ditawarkan hotel.

Perhatian terhadap detail.

Hotel-hotel terbaik di dunia tidak murah tetapi Kita berharap mereka dapat menawarkan semua yang Kita butuhkan, termasuk layanan transfer. 

Hotel mewah juga akan menawarkan layanan berupa mobil mewah gratis atau paling tidak hotel tersebut memiliki koneksi dengan sopir taxi, sehingga pada saat Kita membutuhkan alat transportasi, pihak hotel dapat langsung menghubungi Kita dengan cepat tanpa membuat Kita menunggu terlalu lama. 

Selain itu layanan penjemputan atau pengantaran bandara lagi-lagi sangat berharga, tidak hanya menghemat waktu Kita untuk mengatur taksi, tetapi memberi Kita keamanan selama menggunakan alat transportasi tersebut.

Pelayanan hotel bintang 5 yang baik dan memuaskan bagi tamu tentunya mampu mendatangkan rasa kepuasan tersendiri bagi para tamu yang datang. 

Dari segi fasilitas dan pelayanan itulah yang membedakan antara hotel bintang 5 dengan hotel bintang 1, 2, 3 maupun 4. 

Dari segi harga pun hotel bintang 5 di Jakarta juga memiliki harga yang jauh lebih mahal. Sehingga dibalik dari harganya yang cukup mahal itulah yang menjadikan pihak hotel haruslah lebih mengedepankan pada pelayanan dan fasilitas untuk para tamu agar para tamu juga merasa puas atas pelayanan yang diberikan.

Karena mengingat bahwa tamu adalah raja. Agar Kita tidak kecewa, tak salah rasanya jika membaca travel blog terlebih dahulu agar mendapatkan referensi yang cukup.