Diberdayakan oleh Blogger.

Assalamualaikum Beijing: Legenda Cinta Ashima



Akhirnya.. Alhamdulillah kesampaian juga saya nonton film Assalamualaikum Beijing. Dan ternyata filmnya sesuai dengan ekspektasi saya, apik dan sangat bersahaja. Tidak ada adegan yang membuat saya jenuh dan setting tempat nya benar-benar memanjakan mata dan tentunya membuat hasrat Travelling ke Negeri Bambu itu makin meningkat. Lokasinya bikin Melted lah pokoknya. 

Sebagian besar penonton mungkin sudah tahu kalau film ini diangkat dari novel yang berjudul sama dari sang penulis bertangan dingin Asma Nadia. Sudah banyak tulisan-tulisannya yang ditayangkan di layar lebar dan televisi. Tapi memang drama ini yang paling bikin hati greget, karena ceritanya romantis abis ala film Korea. Apalagi aktor dan settingnya memang di negeri yang tidak jauh beda dengan cerita-cerita di drama Korea. Kalau temen saya bilang sih, yang jomblo hati-hati aja kalo abis nonton film ini. Saking bikin envy-nya sama yang namanya kisah cinta mereka berdua.


Baru kali ini saya review film lewat Blog ini. Berikut review film Assalamualaikum Beijing yang diangkat dari novel Asma Nadia. Semoga bermanfaat.


1.Story

Asmara adalah gadis yang dikhianati calon suaminya. Teganya menjelang hari pernikahan, sang calon suami Dewa mengkhianatinya dengan bermain api dengan gadis lain. Asmara sangat kecewa dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Dewa untuk selamanya. Namun, semua bukan tanpa hikmah, karena batalnya proses pernikahan, Asmara berhasil mendapatkan pekerjaan barunya sebagai jurnalis di Beijing. Dan ini membuat episode kehidupan baru Asmara di Negeri Tiongkok dimulai.

Asmara tidak sendiri di Beijing, sahabatnya Sekar dan suaminya Ridwan menjadi keluarga kecilnya di Beijing. Di tengah kesibukan pekerjaannya di kantor, Asmara berkeliling Beijing untuk mendapatkan informasi untuk bahan tulisannya. Tak sengaja ia bertemu seorang penduduk lokal bernama Zhong Wen di dalam bus. Zhong Wen yang berprofesi sebagai pemandu wisata sangat ramah dan supel, ia pribadi yang sangat menyenangkan. Dan akhirnya pun mereka saling mengenal dan berteman. 

Zhong Wen menceritakan berbagai hal tentang Beijing dan kebudayaan-kebudayaan yang ada di China. Salah satunya mengenai legenda Ashima dan Ahei. Dalam legenda rakyat China, mereka adalah sepasang kekasih yang memiliki kisah cinta sejati. Bahkan di Yunan, terdapat patung Ashima yang dipercaya sebagai perwujudan Ashima yang telah berubah menjadi batu. Ketika merindukan Ashima, Ahei selalu datang. Menatap Ashima-nya yang telah  membantu dan merasakan cinta mereka berdua. Zhong Wen menceritakan kisah ini karena saat berkenalan dengan Asma ia mendengar kata Asma sangat mirip dengan Ashima. Dan Zhong Wen diam-diam berharap Asma lah yang akan menjadi Ashima-nya kelak.


Ketika Asmara telah memulai hidup barunya, setelah Move On dari kisah cintanya yang kandas di tengah jalan, kehadiran Zhong Wen ini dianggap oleh Sekar sahabatnya sebagai God's Sign, bahwa Zhong Wen adalah orang yang dikirim Tuhan untuk mengganti apa yang telah hilang. Namun, karena Zhong Wen yang bukan merupakan seorang muslim membuat hati Asmara bimbang untuk menerima "pertanda" itu atau tidak. 


Di lain sisi, Dewa juga masih mengharapkan Asmara kembali kepadanya.


Di tengah kegalauannya, Asmara harus kembali ke Jakarta. Ia mengidap penyakit aneh yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia sering menderita serangan kelumpuhan mendadak. Hal ini membuat ia semakin tak percaya diri untuk membuka hatinya lagi untuk menerima cinta. Apalagi cinta dari Zhong Wen. Asmara tak ingin Zhong Wen tahu bahwa dirinya tidak seperti yang ia kenal sebelumnya.

Zhong Wen yang mengaggap Asmara sebagai Ashima-nya itu semakin gelisah ketika ia tak kunjung bisa bertemu dengan Asmara. Ia ingin mengungkapkan bahwa Asmara telah banyak menuntunnya menuju jalan cahaya-Nya. Dari sekian email yang tidak pernah dibalas oleh Asmara. Suatu hari ia sangat kaget dan melonjak kegirangan karena Asmara memintanya untuk bertemu di Jakarta. 

Zhong Wen tak pernah tahu bahwa Asmara sedang sakit keras, tapi kenyataan itu tidak pernah menyurutkan langkahnya untuk tetap mencintai Asmara bagaimanapun keadaannya. Zhong Wen tetap ingin mencintai Ashima-nya walaupun apa yang terjadi. Sama halnya kisah cinta Ahei pada Ashima. 


2. Aktor dan Aktris



Revalina S. Temat sebagai Asmara


Revalina bukan aktris yang asing bagi kita, perannya sebagai wanita muslimah juga pernah ia lakukan di Perempuan Berkalung Sorban. Perannya yang apik, tenang, tegar, dan bersahaja ini mewakili sosok Asmara. Seorang jurnalis yang juga hobi traveling ini. Perannya sebagai Asmara membuat penonton terharu, apalagi ketika ia berjuang melawan sakitnya. Ia berperan sebagai perempuan yang mengalami stroke, serangan jantung, kebutaan, dan juga bisu. Two thumbs up untuk Revalina!




Morgan Oey sebagai Zhong Wen


Fantastis! Walaupun ini debut pertamanya di layar lebar, Morgan sang mantan personel boy band SMASH ini sangat baik dalam memerankan Zhong Wen. Aktingnya sangat apik, sederhana (tidak terkesan dibuat-buat) dan sangat mengalir. Peran Zhong Wen ini cukup menantang baginya, ia memerankan seorang warga lokal China yang tertarik kepada perempuan Indonesia yang beragama Islam. Dan sekaligus tertarik pada ajaran Islam itu sendiri. 



Ibnu Jamil sebagai Dewa


Menjadi tokoh dewa dalam film ini, Ibnu Jamil keluar sebagai sosok laki-laki yang mudah tergoda oleh nafsu sesaat. Ia malah mengkhianati Asmara pada hari-hari menjelang pernikahan. Ia menyesal, namun Asmara tak ingin lagi memberinya kesempatan. Tapi, setelah tahu Asmara mengidap penyakit aneh dan ada Zhong Wen disisinya, Dewa berpikir ulang akan semuanya. 





Laudya Cynthia Bella sebagai Sekar



Sekar adalah sahabat Asmara yang tinggal di Beijing bersama suaminya Ridwan yang diperankan Dedi Mahendra Desta. Sekar adalah sahabat Asmara yang sangat mendukung hubungannya dengan Zhong Wen. Ia sangat hobi nonton drama Korea, sehingga ia menganggap kisah cinta Asmara dan Zhong Wen seperti kisah cinta di drama Korea di dunia nyata. 



Desta, Bella, Revalina



3. Setting Tempat

Saya tidak menyangka kalau China memiliki pemandangan yang sangat exotis dan menawan. Tembok China, Patung Ashima di Yunan, Mesjid dengan arsitektur China yang menawan benar-benar membuat kita tidak bisa berpaling ketika menyaksikan film ini. Kalau buat yang hobi travelling pasti bisa jadi destinasi baru untuk menjelajah dunia. 












lokasi patung Ashima





How? Keren kannnn!!!!



4. Perbandingan dengan Novel


Setiap kali kita nonton film yang diangkat dari novel, pasti kita akan membanding-bandingkan film tersebut dengan isi novel sebenarnya. Menurut saya, secara keseluruhan 80 % film ini sangat sesuai dengan apa yang ditulis di dalam novel. Mungkin karena faktor durasi, memang ada beberapa potongan-potongan cerita yang tidak seluruhnya dijadikan cerita di film ini. Saya sendiri nonton film Assalamualaikum Beijing ini setelah membaca novelnya. Di dalam novel, cerita yang dikemas panjang dan detail. Jadi ketika saya menonton filmnya saya faham arah dari cerita secara jelas. Tapi mungkin bagi orang yang belum membaca novel akan "ketinggalan" beberapa cerita yang mendasari sebuah cerita yang ditampilkan dalam adegan film.




Overall...
Keseluruhan film ini sangat bagus dan layak untuk dijadikan tontonan yang sekaligus menjadi nasehat. Islam yang rahmatan lil alamin tergambar di film ini, begitu juga indahnya cinta yang terbingkai dalam pernikahan. Lika-liku kehidupan yang dialami seseorang pasti mengandung banyak hikmah ketika ia memutuskan untuk Move On dari masa lalu nya yang unlucky.


Selamat menonton film ini!

JIKA TAK KAU TEMUKAN CINTA, BIAR CINTA MENEMUKANMU

Lagu Beku


Ku tau cinta itu tak mau kehilangan
Ku mau sendiri menikmati habis senyummu
Ku berdiri di bawah rintihan hujan
Karena ku tahu tak ada yang datang
Menemui cinta yang terlalu lama

Biar ku nikmati sendiri
Karena dalam sendiriku kau selalu ada
Tanpa harus kupanggil
Kau ada dalam ingatan dan rinai hujan
Kau ada dalam guguran badai

Beginilah aku yang menari dalam rindu
Berdiri di tepian danau keheningan
Tersenyum sendiri
Melepas nafas kekaguman
Aku tak ingin begini lagi
Berkali-kali

Berlalu, kebekuan
Aku, kaku dalam sini
Aku beku, dingin

Tak ku ingin lagi
Kau, seberapa lama pun itu
Jangan kembali
Ke rumah hati ini







Lagu Beku


Ku tau cinta itu tak mau kehilangan
Ku mau sendiri menikmati habis senyummu
Ku berdiri di bawah rintihan hujan
Karena ku tahu tak ada yang datang
Menemui cinta yang terlalu lama

Biar ku nikmati sendiri
Karena dalam sendiriku kau selalu ada
Tanpa harus kupanggil
Kau ada dalam ingatan dan rinai hujan
Kau ada dalam guguran badai

Beginilah aku yang menari dalam rindu
Berdiri di tepian danau keheningan
Tersenyum sendiri
Melepas nafas kekaguman
Aku tak ingin begini lagi
Berkali-kali

Berlalu, kebekuan
Aku, kaku dalam sini
Aku beku, dingin

Tak ku ingin lagi
Kau, seberapa lama pun itu
Jangan kembali
Ke rumah hati ini







Pengalaman Memberikan ASI Ekslusif [ASI VS SKRIPSI]



Foto Kifah waktu baru lahir

Saya merasa bersyukur menjadi salah satu orang yang beruntung merasakan indahnya menikah di usia muda. Saya menikah diusia yang belum genap 20 tahun pada tahun 2010. Dan masih harus berjuang menempuh perkuliahan S1 semester lima di sebuah Universitas di kota kembang Bandung. Kemudian, berselang satu tahun setelah pernikahan, saya pun dikarunia seorang baby boy yang Alhamdulillah lulus S3 ASI di ulang tahunnya yang ke-2.

Jujur saja, ketika masa kehamilan mulai tri semester pertama hingga tri semester ketiga saya belum ngeh tentang pemberian ASI ekslusif untuk bayi. Sebatas tahu bahwa ASI itu sangat baik untuk bayi dibandingkan susu formula tanpa tahu teknis dan strategi pemberian ASI. Walaupun hampir setiap bulan saya check up ke Bidan, tak ada percakapan khusus antara saya dan Bu Bidan mengenai pemberian ASI ekslusif kepada bayi terutama pada usia 0 sampai 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun. Bahkan dalam rumah bersalin tersebut justru terpajang berbagai merk susu formula bayi mulai usia 0 bulan. Tepuk jidat. 



Setelah memasuki detik-detik persalinan, baru lah saya mulai mencari-cari informasi mengenai tata cara pemberian ASI ekslusif untuk bayi. Asal mula saya mulai mencari informasi mengenai ASI ekslusif pun atas kebaikan hati seorang teman yang menjebloskan saya masuk ke dalam sebuah grup peduli pemberian ASI ekslusif di sebuah jejaring sosial dunia maya. Setelah stalking dan menjadi silent reader di grup tersebut, baru lah sedikit-sedikit saya mengerti tata cara pemberian ASI esklusif. Karena banyak ibu-ibu baru yang saling curhat di grup, jadilah saya bisa memprediksi masalah-masalah apa yang kira-kira akan muncul dikemudian hari berikut solusi dari para member lain yang banyak banget di kolom komentar. Izinkanlah saya berterima kasih kepada Facebook.

Baby boy saya pun akhirnya lahir dengan bantuan persalinan di rumah bersalin tempat sebelumnya saya memeriksakan kehamilan. Dan, apa yang terjadi? Ternyata susu formula bayi yang dipajang di etalase rumah bersalin tersebut pun menjadi “hadiah” untuk dibawa pulang sebagai pengganti ASI yang katanya belum bisa keluar di awal-awal setelah persalinan. Namun, berbekal pengetahuan seadanya bahwa ASI pertama yang keluar memiliki kolostrum yang baik untuk sistem imun bayi maka saya bertekad untuk memberikan ASI pertama itu kepada my baby boy. Akhirnya, dengan susah payah saya berhasil memberikannya walaupun dengan kuantitas yang sedikit sekali. Poor me.

Sebagai ibu baru tentunya saya panik ketika bayi saya menangis pada masa awal kelahirannya di dunia. Dan yang paling menyedihkan adalah ketika ASI belum banyak keluar. Hingga akhirnya dengan berat hati keputusan untuk membuka “hadiah” dari Bu Bidan pun dilakukan. Keputusan yang saya rasa kurang tepat hingga akhirnya bayi saya kemudian mengalami bingung puting karena susu formula tersebut diberikan dengan menggunakan dot –-yang juga hadiah dari Bu Bidan--. Dan saya harus mengerahkan berbagai posisi perlekatan menyusui untuk menghilangkan bingung puting itu. Ya rasanya galau, perasaan bersalah bercampur sedih karena ASI yang diharapkan belum maksimal diproduksi dan harus menggunakan susu formula.

Dengan segala ikhtiar yang saya lakukan bersama suami, semuanya tak berakhir sia-sia. Ketika ada seorang teman yang menyarankan untuk membeli pompa ASI, suami dengan sigap lari ke apotek dan memberi saya pompa ASI pertama yang berbentuk corong hisap mirip bel tukang roti. Hehehe. Walaupun harganya tak semurah yang dikatakan oleh teman yang merekomendasikan --karena konon katanya yang dibeli sama suami saya itu yang original alias salah beli-- demi ASI tak jadi soal. Sejak saat itu lah saya mulai gesit untuk memompa ASI sedikit demi sedikit dan akhirnya membuahkan hasil, ASI saya menjadi lancar dan berlimpah. Tapi yang membuat sedih, pompa ASI pertama itu pecah karena jatuh ketika dibawa rekreasi ke Garut. Ah, sudahlah.

Makin lama saya makin tertarik untuk mencari informasi seputar ASI di internet. Karena saya melahirkan ketika masa UAS, maka saya memiliki waktu untuk mempersiapkan diri untuk meninggalkan baby boy saya itu pada saat kuliah nanti.  Mulailah saya mencari info mengenai pompa ASI yang standar (bentuknya ngga seperti bel tukang roti lagi), tempat penyimpanan ASI, bagaimana ASI disimpan di lemari es, dan bagaimana memompa ASI ketika di luar rumah. Semua itu saya pelajari demi manajemen ASI Ekslusif yang sangat ingin saya lakukan.

Alhamdulillah akhirnya ASI saya banyak berlimpah, semua ini rezeki yang Allah titipkan untuk bayi saya. Karena saking banyaknya produksi ASI, saya sampai kebingungan sendiri mencari tempat untuk menampung ASI yang sudah saya perah. Awalnya saya hanya menyimpan ASI pada dot bayi, tapi lama kelamaan saya merasa kekurangan tempat penyimpanan. Kemudian saya mencari alternatif tempat penyimpanan dengan mencari informasi di internet dan meminta informasi dari teman yang memang sudah pernah menampung ASI sebelumnya. Daaannnn, Alhamdulillah. Rezeki nomplok! Teman saya memberikan satu kardus botol kaca ASI yang tidak terpakai karena terlalu banyak membeli ketika dulu ia masih menyusui. Sungguh, Allah selalu memudahkan urusan setiap hambaNya yang senantiasa berikhtiar di jalan kebaikan.

Masa kuliah pun datang, saya harus menitipkan bayi saya kepada ibu mertua. Karena kebetulan jarak antara kampus dan rumah ibu mertua sangat dekat. Setiap hari, sebelum kuliah saya harus memastikan persediaan ASI di dalam lemari es, terutama di dalam freezer. Karena konon menurut informasi yang saya dapatkan waktu itu, menyimpan ASI di dalam freezer memberikan daya tahan yang lebih lama terhadap kualitas ASI. 

Sesuai petunjuk yang saya dapat di internet, bahwa setiap botol ASIP (ASI Perah) harus diberi jam dan tanggal pemerahan, agar memudahkan pemberian ASIP kepada bayi. Tapi, yang namanya saya itu pelupa dan suka teledor, jadinya setiap botol ASIP lupa dicatat jam dan tanggal pemerahannya. Akhirnya, demi kemudahan saya hanya menomori botol ASIP dari angka satu hingga ke sekian. Itu juga memudahkan Ibu mertua saya untuk memberikan ASIP tersebut. Karena setiap hari akan ada proses “isi ulang” jadi saya rasa cukup mudah untuk melakukan penomoran pada botol ASIP.

Selama saya kuliah biasa, Alhamdulillah masalah ASI pun tertangani dengan baik. Namun, masalah berikutnya datang ketika saya harus menjalani Kuliah Kerja Nyata, Praktek Latihan Profesi, dan menyusun skripsi. Saya harus menemukan cara bagaimana ASI ekslusif tetap berjalan dengan baik.

Ketika saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), dengan sengaja saya mengajukan tempat yang paling dekat dengan tempat tinggal kepada pihak kampus dengan alasan saya memiliki seorang bayi dan Alhamdulillah pihak kampus memberikan kemudahan dan akhirnya saya ditempatkan di sebuah Madrasah Ibtidaiyah tidak jauh dari kampus dan tempat tinggal. Setiap pagi saya menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah dengan membawa bayi, atau sesekali waktu saya titipkan di rumah ibu mertua. Alhamdulillah pihak sekolah mengijinkan saya untuk membawa bayi saya ke sekolah asalkan tidak mengganggu kegiatan utama saya di sekolah yaitu dalam rangka pengabdian kepada masyarakat. Demi ASI ekslusif, setiap hari saya membawa bayi saya ke sekolah dan menjadikan ruang UKS menjadi ruang laktasi sementara. Untungnya, jarang siswa MI yang sakit dan datang kesini. Ruang UKS akhirnya bisa leluasa dipakai untuk ruang menyusui. Ya mungkin, saran saya di sekolah pun harusnya ada ruang laktasi untuk para ibu yang menyusui, salah satunya di ruang UKS itu, hehehe maksa. Teman-teman kelompok KKN saya pun memberikan support yang luar biasa. Mereka memberikan keleluasaan kepada saya untuk tetap berkarya tanpa harus meninggalkan kewajiban saya yang lainnya. Ada yang rela nungguin saya kalau ada kegiatan, dan ada juga yang rajin masak untuk saya dan yang lainnya. Ah, senangnya berukhuwah itu.

Tantangan yang lebih berat pun saya rasakan ketika saya memasuki masa Program Latihan Profesi (PLP) di sebuah instansi pemerintah. Jam kerja yang harus saya hadapi dalam satu bulan membuat saya merasakan menjadi working mom sementara waktu. Dan hal ini sungguh-sungguh luar biasa. Manajemen ASI yang saya lakukan harus lebih extra, dan disaat ini lah support terbesar datang dari suami dan keluarga terdekat. Karena hampir-hampir saya menyerah kepada susu formula. Setiap hari saya harus pergi pagi pulang petang membuat saya harus memiliki waktu untuk memerah ASI di kantor, mau tidak mau, suka tidak suka. Dengan berbekal pompa ASI dan botol kaca yang saya bawa di dalam tas yang saya bawa ke kantor, saya mencoba untuk memerah ASI. Tak ada ruang laktasi, tak ada ruang yang nyaman untuk memerah ASI, satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk memerah ASI pada saat itu adalah di Mushola kantor. Disana lah saya berjibaku setiap hari memerah ASI dengan keadaan yang serba sederhana. Berbekal kepercayaan dan tekad yang kuat. Disini juga saya merasakan apa yang dirasakan para working mom yang tetap ingin memberikan ASI ekslusif ditengah kesibukan yang makin menantang. Semoga Allah memudahkan segala usaha mereka.

Pagi hingga petang saya berjibaku dengan rutinitas kantor yang begitu padat, dan pada malam harinya perjuangan saya masih belum berakhir. SKRIPSI, masih menanti untuk digarap pada saat itu.  Di tengah malam, dimana badan rasanya remuk redam, ingin sekali beristirahat. Namun apa daya, kewajiban menyusui, memerah ASI untuk cadangan esok hari, dan juga mengerjakan skripsi membuat saya harus menahan rasa kantuk dan lelah yang amat sangat. Di saat orang lain tidur pulas, saya malah menjadi makhluk nocturnal. Ingin rasanya menggerutu, mengeluh, marah, menangis, dan lain sebagainya. Saya selalu bertanya dalam hati, apakah saya sudah siap menjadi “Mahasiswa Rumah Tangga” dengan tantangan sesulit ini. Namun, Subhanalloh, hanya Allah-lah yang memberikan saya kekuatan pada saat itu. Karena saya yakin, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Dan Dia selalu membersamai hambanya yang bersabar. Sujud syukur.

Waktu berlalu cepat, hari berganti dengan sekejap. Dengan berbagai tantangan dalam pemberian ASI esklusif, akhirnya tertunaikan amanah itu dengan baik. My baby boy Muhammad Kifah Abdullah Sidik akhirnya lulus S3 ASI tepat di hari ulang tahunnya yang ke-2. Rasanya berat untuk menyapihnya. Namun saya sangat bersyukur, haknya sudah tertunaikan dengan baik. Semoga apa yang menjadi darah dan dagingnya menjadi bekal terbaik untuk kehidupannya kelak.

Allah memang Maha Adil, Dia telah menetapkan hal yang baik untuk hambaNya. Begitupun ketika kita memutuskan untuk memberikan ASI ekslusif sebagai amanah dariNya untuk buah hati kita. Sesulit apapun, pasti selalu ada jalan keluar. Saat logika kita ingin menyerah, Dia-lah yang selalu memberikan kekuatan. Hal yang membuat saya bersyukur hingga saat ini adalah kemampuan yang Allah berikan untuk memberikan hak kepada titipanNya tanpa mengabaikan kewajiban yang lain. Seandainya saat itu saya menyerah, mungkin tidak akan sebahagia ini. Dan ditengah kesulitan, ada kemudahan yang Dia berikan adalah benar adanya. Dengan berbagai “ujian” yang Dia berikan, Alhamdulillah saya berhasil lulus dengan predikat Cumlaude dan menjadi salah satu yang terbaik di Universitas, dan juga berhasil memberikan ASI ekslusif untuk buah hati. Karena bersama kesulitan, selalu ada kemudahan. Selamat memberikan ASI ekslusif. Salam cinta ASI.


Related Post:

Menikah saat Kuliah

Pengalaman Memberikan ASI Ekslusif [ASI VS SKRIPSI]



Foto Kifah waktu baru lahir

Saya merasa bersyukur menjadi salah satu orang yang beruntung merasakan indahnya menikah di usia muda. Saya menikah diusia yang belum genap 20 tahun pada tahun 2010. Dan masih harus berjuang menempuh perkuliahan S1 semester lima di sebuah Universitas di kota kembang Bandung. Kemudian, berselang satu tahun setelah pernikahan, saya pun dikarunia seorang baby boy yang Alhamdulillah lulus S3 ASI di ulang tahunnya yang ke-2.

Jujur saja, ketika masa kehamilan mulai tri semester pertama hingga tri semester ketiga saya belum ngeh tentang pemberian ASI ekslusif untuk bayi. Sebatas tahu bahwa ASI itu sangat baik untuk bayi dibandingkan susu formula tanpa tahu teknis dan strategi pemberian ASI. Walaupun hampir setiap bulan saya check up ke Bidan, tak ada percakapan khusus antara saya dan Bu Bidan mengenai pemberian ASI ekslusif kepada bayi terutama pada usia 0 sampai 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun. Bahkan dalam rumah bersalin tersebut justru terpajang berbagai merk susu formula bayi mulai usia 0 bulan. Tepuk jidat. 



Setelah memasuki detik-detik persalinan, baru lah saya mulai mencari-cari informasi mengenai tata cara pemberian ASI ekslusif untuk bayi. Asal mula saya mulai mencari informasi mengenai ASI ekslusif pun atas kebaikan hati seorang teman yang menjebloskan saya masuk ke dalam sebuah grup peduli pemberian ASI ekslusif di sebuah jejaring sosial dunia maya. Setelah stalking dan menjadi silent reader di grup tersebut, baru lah sedikit-sedikit saya mengerti tata cara pemberian ASI esklusif. Karena banyak ibu-ibu baru yang saling curhat di grup, jadilah saya bisa memprediksi masalah-masalah apa yang kira-kira akan muncul dikemudian hari berikut solusi dari para member lain yang banyak banget di kolom komentar. Izinkanlah saya berterima kasih kepada Facebook.

Baby boy saya pun akhirnya lahir dengan bantuan persalinan di rumah bersalin tempat sebelumnya saya memeriksakan kehamilan. Dan, apa yang terjadi? Ternyata susu formula bayi yang dipajang di etalase rumah bersalin tersebut pun menjadi “hadiah” untuk dibawa pulang sebagai pengganti ASI yang katanya belum bisa keluar di awal-awal setelah persalinan. Namun, berbekal pengetahuan seadanya bahwa ASI pertama yang keluar memiliki kolostrum yang baik untuk sistem imun bayi maka saya bertekad untuk memberikan ASI pertama itu kepada my baby boy. Akhirnya, dengan susah payah saya berhasil memberikannya walaupun dengan kuantitas yang sedikit sekali. Poor me.

Sebagai ibu baru tentunya saya panik ketika bayi saya menangis pada masa awal kelahirannya di dunia. Dan yang paling menyedihkan adalah ketika ASI belum banyak keluar. Hingga akhirnya dengan berat hati keputusan untuk membuka “hadiah” dari Bu Bidan pun dilakukan. Keputusan yang saya rasa kurang tepat hingga akhirnya bayi saya kemudian mengalami bingung puting karena susu formula tersebut diberikan dengan menggunakan dot –-yang juga hadiah dari Bu Bidan--. Dan saya harus mengerahkan berbagai posisi perlekatan menyusui untuk menghilangkan bingung puting itu. Ya rasanya galau, perasaan bersalah bercampur sedih karena ASI yang diharapkan belum maksimal diproduksi dan harus menggunakan susu formula.

Dengan segala ikhtiar yang saya lakukan bersama suami, semuanya tak berakhir sia-sia. Ketika ada seorang teman yang menyarankan untuk membeli pompa ASI, suami dengan sigap lari ke apotek dan memberi saya pompa ASI pertama yang berbentuk corong hisap mirip bel tukang roti. Hehehe. Walaupun harganya tak semurah yang dikatakan oleh teman yang merekomendasikan --karena konon katanya yang dibeli sama suami saya itu yang original alias salah beli-- demi ASI tak jadi soal. Sejak saat itu lah saya mulai gesit untuk memompa ASI sedikit demi sedikit dan akhirnya membuahkan hasil, ASI saya menjadi lancar dan berlimpah. Tapi yang membuat sedih, pompa ASI pertama itu pecah karena jatuh ketika dibawa rekreasi ke Garut. Ah, sudahlah.

Makin lama saya makin tertarik untuk mencari informasi seputar ASI di internet. Karena saya melahirkan ketika masa UAS, maka saya memiliki waktu untuk mempersiapkan diri untuk meninggalkan baby boy saya itu pada saat kuliah nanti.  Mulailah saya mencari info mengenai pompa ASI yang standar (bentuknya ngga seperti bel tukang roti lagi), tempat penyimpanan ASI, bagaimana ASI disimpan di lemari es, dan bagaimana memompa ASI ketika di luar rumah. Semua itu saya pelajari demi manajemen ASI Ekslusif yang sangat ingin saya lakukan.

Alhamdulillah akhirnya ASI saya banyak berlimpah, semua ini rezeki yang Allah titipkan untuk bayi saya. Karena saking banyaknya produksi ASI, saya sampai kebingungan sendiri mencari tempat untuk menampung ASI yang sudah saya perah. Awalnya saya hanya menyimpan ASI pada dot bayi, tapi lama kelamaan saya merasa kekurangan tempat penyimpanan. Kemudian saya mencari alternatif tempat penyimpanan dengan mencari informasi di internet dan meminta informasi dari teman yang memang sudah pernah menampung ASI sebelumnya. Daaannnn, Alhamdulillah. Rezeki nomplok! Teman saya memberikan satu kardus botol kaca ASI yang tidak terpakai karena terlalu banyak membeli ketika dulu ia masih menyusui. Sungguh, Allah selalu memudahkan urusan setiap hambaNya yang senantiasa berikhtiar di jalan kebaikan.

Masa kuliah pun datang, saya harus menitipkan bayi saya kepada ibu mertua. Karena kebetulan jarak antara kampus dan rumah ibu mertua sangat dekat. Setiap hari, sebelum kuliah saya harus memastikan persediaan ASI di dalam lemari es, terutama di dalam freezer. Karena konon menurut informasi yang saya dapatkan waktu itu, menyimpan ASI di dalam freezer memberikan daya tahan yang lebih lama terhadap kualitas ASI. 

Sesuai petunjuk yang saya dapat di internet, bahwa setiap botol ASIP (ASI Perah) harus diberi jam dan tanggal pemerahan, agar memudahkan pemberian ASIP kepada bayi. Tapi, yang namanya saya itu pelupa dan suka teledor, jadinya setiap botol ASIP lupa dicatat jam dan tanggal pemerahannya. Akhirnya, demi kemudahan saya hanya menomori botol ASIP dari angka satu hingga ke sekian. Itu juga memudahkan Ibu mertua saya untuk memberikan ASIP tersebut. Karena setiap hari akan ada proses “isi ulang” jadi saya rasa cukup mudah untuk melakukan penomoran pada botol ASIP.

Selama saya kuliah biasa, Alhamdulillah masalah ASI pun tertangani dengan baik. Namun, masalah berikutnya datang ketika saya harus menjalani Kuliah Kerja Nyata, Praktek Latihan Profesi, dan menyusun skripsi. Saya harus menemukan cara bagaimana ASI ekslusif tetap berjalan dengan baik.

Ketika saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), dengan sengaja saya mengajukan tempat yang paling dekat dengan tempat tinggal kepada pihak kampus dengan alasan saya memiliki seorang bayi dan Alhamdulillah pihak kampus memberikan kemudahan dan akhirnya saya ditempatkan di sebuah Madrasah Ibtidaiyah tidak jauh dari kampus dan tempat tinggal. Setiap pagi saya menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah dengan membawa bayi, atau sesekali waktu saya titipkan di rumah ibu mertua. Alhamdulillah pihak sekolah mengijinkan saya untuk membawa bayi saya ke sekolah asalkan tidak mengganggu kegiatan utama saya di sekolah yaitu dalam rangka pengabdian kepada masyarakat. Demi ASI ekslusif, setiap hari saya membawa bayi saya ke sekolah dan menjadikan ruang UKS menjadi ruang laktasi sementara. Untungnya, jarang siswa MI yang sakit dan datang kesini. Ruang UKS akhirnya bisa leluasa dipakai untuk ruang menyusui. Ya mungkin, saran saya di sekolah pun harusnya ada ruang laktasi untuk para ibu yang menyusui, salah satunya di ruang UKS itu, hehehe maksa. Teman-teman kelompok KKN saya pun memberikan support yang luar biasa. Mereka memberikan keleluasaan kepada saya untuk tetap berkarya tanpa harus meninggalkan kewajiban saya yang lainnya. Ada yang rela nungguin saya kalau ada kegiatan, dan ada juga yang rajin masak untuk saya dan yang lainnya. Ah, senangnya berukhuwah itu.

Tantangan yang lebih berat pun saya rasakan ketika saya memasuki masa Program Latihan Profesi (PLP) di sebuah instansi pemerintah. Jam kerja yang harus saya hadapi dalam satu bulan membuat saya merasakan menjadi working mom sementara waktu. Dan hal ini sungguh-sungguh luar biasa. Manajemen ASI yang saya lakukan harus lebih extra, dan disaat ini lah support terbesar datang dari suami dan keluarga terdekat. Karena hampir-hampir saya menyerah kepada susu formula. Setiap hari saya harus pergi pagi pulang petang membuat saya harus memiliki waktu untuk memerah ASI di kantor, mau tidak mau, suka tidak suka. Dengan berbekal pompa ASI dan botol kaca yang saya bawa di dalam tas yang saya bawa ke kantor, saya mencoba untuk memerah ASI. Tak ada ruang laktasi, tak ada ruang yang nyaman untuk memerah ASI, satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk memerah ASI pada saat itu adalah di Mushola kantor. Disana lah saya berjibaku setiap hari memerah ASI dengan keadaan yang serba sederhana. Berbekal kepercayaan dan tekad yang kuat. Disini juga saya merasakan apa yang dirasakan para working mom yang tetap ingin memberikan ASI ekslusif ditengah kesibukan yang makin menantang. Semoga Allah memudahkan segala usaha mereka.

Pagi hingga petang saya berjibaku dengan rutinitas kantor yang begitu padat, dan pada malam harinya perjuangan saya masih belum berakhir. SKRIPSI, masih menanti untuk digarap pada saat itu.  Di tengah malam, dimana badan rasanya remuk redam, ingin sekali beristirahat. Namun apa daya, kewajiban menyusui, memerah ASI untuk cadangan esok hari, dan juga mengerjakan skripsi membuat saya harus menahan rasa kantuk dan lelah yang amat sangat. Di saat orang lain tidur pulas, saya malah menjadi makhluk nocturnal. Ingin rasanya menggerutu, mengeluh, marah, menangis, dan lain sebagainya. Saya selalu bertanya dalam hati, apakah saya sudah siap menjadi “Mahasiswa Rumah Tangga” dengan tantangan sesulit ini. Namun, Subhanalloh, hanya Allah-lah yang memberikan saya kekuatan pada saat itu. Karena saya yakin, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Dan Dia selalu membersamai hambanya yang bersabar. Sujud syukur.

Waktu berlalu cepat, hari berganti dengan sekejap. Dengan berbagai tantangan dalam pemberian ASI esklusif, akhirnya tertunaikan amanah itu dengan baik. My baby boy Muhammad Kifah Abdullah Sidik akhirnya lulus S3 ASI tepat di hari ulang tahunnya yang ke-2. Rasanya berat untuk menyapihnya. Namun saya sangat bersyukur, haknya sudah tertunaikan dengan baik. Semoga apa yang menjadi darah dan dagingnya menjadi bekal terbaik untuk kehidupannya kelak.

Allah memang Maha Adil, Dia telah menetapkan hal yang baik untuk hambaNya. Begitupun ketika kita memutuskan untuk memberikan ASI ekslusif sebagai amanah dariNya untuk buah hati kita. Sesulit apapun, pasti selalu ada jalan keluar. Saat logika kita ingin menyerah, Dia-lah yang selalu memberikan kekuatan. Hal yang membuat saya bersyukur hingga saat ini adalah kemampuan yang Allah berikan untuk memberikan hak kepada titipanNya tanpa mengabaikan kewajiban yang lain. Seandainya saat itu saya menyerah, mungkin tidak akan sebahagia ini. Dan ditengah kesulitan, ada kemudahan yang Dia berikan adalah benar adanya. Dengan berbagai “ujian” yang Dia berikan, Alhamdulillah saya berhasil lulus dengan predikat Cumlaude dan menjadi salah satu yang terbaik di Universitas, dan juga berhasil memberikan ASI ekslusif untuk buah hati. Karena bersama kesulitan, selalu ada kemudahan. Selamat memberikan ASI ekslusif. Salam cinta ASI.


Related Post:

Menikah saat Kuliah

Loving You as Always



 Abi Ijang


Itu judulnya udah kayak Om Mario Teguh yaa..

Hal yang menyenangkan disela-sela ngerjain tugas yang tidak kunjung berakhir dan sangat menantang adalah telepon dari misua aka suami. Namanya juga Long Distance Realationship, paling banter teteleponan atau chatting via BBM atau WA. 

Ceritanya saya dan suami LDRan antara Bandung dan Bogor. Ga jauh sih emang, jarak 3-4 jam juga nyampe lewat Tol Cipularang. Tapi yang jadi soal adalah kita belum pernah pisah-pisahan gini sebelumnya. Dulu sih kemana-mana selalu bareng. Bahkan mau beli makanan ke mini market juga bareng. Tapi sekarang kita ketemu cuma seminggu sekali atau dua minggu sekali. Sesuatu bangeettt yaaaa...


Alasan kenapa kita memutuskan untuk LDRan adalah saya melanjutkan kuliah lagi di Pasca Sarjana. Awalnya gak ada niatan untuk secepat ini untuk kuliah lagi. Tapi ternyata Alloh kasih skenario lain. Alhamdulillah dapet kesempatan kuliah lagi dengan berbagai jalan yang Dia tunjukkan. Tujuan saya kuliah lagi adalah supaya kedepan saya bisa jadi pengajar/dosen di Universitas. Karena memang mengajar itu pekerjaan yang paling fleksibel bagi seorang ibu rumah tangga. Manajemen waktu untuk keluarga dan pekerjaan bisa dibilang mudah dikelola. Itu menurut hemat kami berdua. 

Tapi waktu di telepon misua tadi, dia nanya "sebenernya tujuan hidup kita kepisah-pisah gini apa ya?"
JLEB. Hmmm.. kalau ditanya gitu emang berat dan bingung buat jawab apa. Kalau memang dasar tujuannya untuk bisa dapat perkerjaan yang layak dikemudian hari, haishhhh itu amat sangat menafikan kekuasaan sang pencipta alam Alloh SWT. Emang selama ini kita hidup gak layak gitu? 

Realitas kehidupan jaman sekarang memang membuat kita putar otak dan banting tulang untuk mencukupi segala kebutuhan hidup. Mulai dari kebutuhan pokok (makan, pendidikan, kesehatan, rumah dll) hingga kebutuhan yang menyangkut prestisi. Semua itu merupakan kebutuhan wajib yang harus dipenuhi (padahal sungguh sangat matrealistis). Hingga bukan suatu yang aneh kalau suami istri rela bekerja demi mendapatkan double income untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tidak ada habisnya itu.

Kami menjadi berpikir ulang tentang ini semua. Apakah tujuan hidup kami memang ini? untuk mendapatkan materi seperti yang dimiliki orang lain. Memiliki kedudukan yang dimiliki orang lain, memiliki popularitas seperti yang dimiliki orang lain. Apakah kerja keras hingga harus mengorbankan kebersamaan kami adalah untuk memenuhi keinginan duniawi yang sungguh tidak abadi sama sekali. Sungguh akan sangat menyesal dikemudian hari jika kebersamaan yang kita miliki ditukar untuk ini semua. 

Kembali ke niat. Cek! 
Jika niat "perjuangan" ini adalah untuk mengejar kesenangan duniawi, kami harus segera istigfar. Apakah kesenangan dunia yang menipu akan merusak kebahagiaan kami. Niat ini memang harus direvisi, harus ditinjau ulang! Apabila telah melenceng dari syariat Alloh maka kami harus meluruskannya. Sesungguhnya semua pekerjaan yang kami lakukan di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Alloh. Sesuai dengan firmanNYA. "tidaklah kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKU" sehingga pekerjaan apapun adalah jembatan untuk mendekatkan diri dan menghamba hanya padaNYA. Saya menuntut ilmu semata-mata untuk beribadah kepadaNYA, menjalankan perintahNYA untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya hingga ke liang lahat, dan mengabdikan ilmu yang dimiliki untuk kemaslahatan ummat. Sedang suami saya bekerja dalam rangka beribadah kepadaNYA untuk menjalankan perintahnya sebagai suami yang berkewajiban menanggung nafkah keluarga. Tak tanggung-tanggung pahalanya adalah pahala jihad fii sabilillah.


Fiuuuhhhh... setelah semua dikembalikan lagi kepadaNYA. Hati ini kembali merasa lega. Dan harus selalu berhati-hati dalam jebakan duniawi. Sungguh dengan mengingat Alloh maka hati akan tenang memang benar adanya. Mengembalikan segala urusan hidup kepadaNYA adalah suatu hal yang sangat menenangkan. Tak usah pusing urusan rezeki, memikirkan hidup layak atau tak layak. Toh selama ini tak pernah sekalipun Alloh menerlantarkan keluarga kami. Bahkan DIA selalu menambah rezekiNYA dari arah yang tidak disangka-sangka sebelumnya. 


Suamiku..
Terima kasih atas ridhomu untukku dalam menuntut ilmu. Tidak banyak suami yang memberikan keleluasaan bagi istrinya untuk senantiasa menikmati indahnya menuntut ilmu, apalagi engkau memberikan kesempatan ini lebih awal bahkan dari dirimu sendiri. Terima kasih atas pengorbanan yang banyak.Rela ditinggal sendiri, mengurus diri sendiri di rumah tanpa pelayanan seperti biasanya.*fufufu... nangis dipojokan*


Thanks for giving me material and moral support. Thanks for become great husband and great father for us. We loving you as always. May Alloh give us a great place in Jannah. Amiinn :)